Okultasi Venus Terlihat Berbeda dari Sejumlah Wilayah Indonesia

  • 15 Sep 2026 18:53 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Fenomena okultasi Venus oleh Bulan menjadi perhatian masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia bagian barat pada Senin 14 September 2026 malam.

Fenomena langka tersebut terjadi ketika Venus untuk sementara tertutup oleh piringan Bulan. Dari wilayah tertentu, Venus terlihat perlahan menghilang di balik Bulan sebelum kembali muncul beberapa saat kemudian.

Pengamatan fenomena ini dilakukan secara bersama melalui Livestream Pengamatan Okultasi Venus yang digelar Observatorium Bosscha, Institut Teknologi Bandung (ITB), pada pukul 19.00 hingga 21.00 WIB.

Pengamatan melibatkan sejumlah kolaborator dari berbagai daerah di Indonesia hingga Bangkok, di antaranya Lampung, Bengkulu, Banten, Semarang, Lamongan, Yogyakarta, Medan, dan Padang.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa okultasi Venus tidak terlihat dengan cara yang sama di setiap wilayah. Perbedaan tersebut dipengaruhi posisi pengamat di permukaan Bumi, mengingat jarak Bulan jauh lebih dekat ke Bumi dibandingkan Venus.

Peneliti Observatorium Bosscha, Agus T. P. Jatmiko, menjelaskan perbedaan posisi tampak tersebut berkaitan dengan sudut pandang pengamat.

“Bulan posisinya lebih dekat dengan Bumi dibanding Venus, itu yang menyebabkan posisi tampak kedua benda langit tersebut dapat berbeda ketika diamati dari lokasi yang berbeda,” ujar Agus, Selasa 15 September 2026.

Di Lampung, misalnya, Venus terlihat sebagai titik cahaya terang yang berada dekat dengan Bulan sabit. Benda langit tersebut kemudian tampak mendekati tepi Bulan hingga akhirnya tertutup oleh piringannya.

Sementara dari Yogyakarta, Venus tidak mengalami okultasi. Kedua benda langit tersebut hanya terlihat berdekatan karena wilayah tersebut berada di luar jalur okultasi.

Kondisi berbeda juga terlihat di Semarang yang berada dekat dengan jalur okultasi. Dari wilayah tersebut, posisi Venus tampak sangat dekat dengan tepi Bulan atau mendekati kondisi grazing.

Selain posisi geografis, cuaca turut menentukan keberhasilan pengamatan. Tim di Bangkok, misalnya, menghadapi kondisi berawan. Sementara pengamatan di Medan terkendala hujan dan gerimis.

Kendala serupa dialami tim pengamat di Padang. Kabut tebal di lokasi pengamatan dengan ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut membuat Bulan dan Venus sulit diamati, meskipun peralatan teleskop pintar telah disiapkan.

“Yang paling penting dalam pengamatan itu instrumennya siap, pengamatnya siap, dan yang terakhir cuacanya bagus,” kata Agus.

Di Lamongan, Bulan terlihat kemerahan karena posisinya masih rendah di dekat horizon. Namun, Venus tidak masuk ke dalam bidang pandang instrumen yang digunakan tim pengamat.

Pengamatan dari berbagai wilayah tersebut menunjukkan bahwa satu fenomena astronomi dapat memiliki kenampakan yang berbeda, tergantung lokasi pengamat, kondisi atmosfer, waktu, serta instrumen yang digunakan.

Dari satu wilayah, Venus dapat terlihat menghilang di balik Bulan. Di lokasi lain, keduanya hanya tampak berdekatan, sementara sejumlah daerah lainnya tidak dapat mengamati fenomena tersebut secara optimal karena terkendala cuaca.

Observatorium Bosscha melalui pengamatan serentak ini sekaligus memperlihatkan pentingnya observasi dari berbagai lokasi untuk memahami fenomena astronomi secara lebih menyeluruh.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....