Penjelasan Ilmiah Ahli ITB Soal Fenomena Sejumlah Gunung Api Erupsi Bersamaan

  • 08 Sep 2026 17:38 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Sejumlah gunung api di Indonesia mengalami erupsi dalam waktu yang berdekatan pada akhir Agustus hingga awal September 2026. Fenomena tersebut terjadi pada beberapa gunung di Indonesian di antaranya Gunung Ibu, Lewotobi Laki-Laki, Ili Lewotolok, Semeru, Anak Krakatau hingga Sinabung.

Ahli Vulkanologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Mirzam Abdurrachman, mengatakan fenomena erupsi sejumlah gunung api dalam waktu berdekatan dapat dijelaskan secara ilmiah. Menurutnya, terdapat beberapa kemungkinan yang menyebabkan fenomena tersebut terjadi, salah satunya berkaitan dengan persebaran gunung api yang berada dalam busur tektonik yang sama.

Gunung api di Indonesia terbagi dalam empat kelompok besar, yakni Busur Sunda, Busur Banda, Busur Sangihe-Selebes dan Busur Halmahera. Gunung yang berada dalam satu busur memiliki tatanan tektonik yang sama sehingga dapat memiliki faktor pemicu yang sama.

Namun, menurut Mirzam, erupsi yang terjadi bersamaan juga dapat terjadi hanya karena kebetulan. Hal itu dapat terjadi pada gunung api yang berada pada busur yang berbeda.

"Karena kalau gunung-gunung tersebut berada pada busur yang sama artinya tatanan tektoniknya sama. Kalau Krakatau sama Semeru meletus bersama karena berada pada busur yang sama. Artinya penyelenggaranya sama," kata Mirzam, Selasa 9 September 2026.

Selain faktor tektonik, setiap gunung api juga memiliki interval erupsi yang berbeda. Ada gunung yang memiliki siklus erupsi beragam mulai dari 5, 10, bahkan hingga 15 tahun.

"Artinya pada tahun ke-10 atau 20 gunung meletus bersamaan. Pada tahun ke-30 tiga gunung meletus bersamaan," kata Mirzam di Bandung, Selasa 8 September 2026.

Ia menambahkan, fenomena gempa bumi yang terjadi secara merata dari wilayah Indonesia bagian barat hingga timur juga perlu diperhatikan. Mirzam mengibaratkan kondisi tersebut seperti sejumlah gelas berisi air yang berada di atas sebuah meja.

Ketika meja mengalami guncangan, air dalam satu atau beberapa gelas dapat tumpah. Kondisi serupa, menurutnya, dapat membantu menjelaskan mengapa aktivitas sejumlah gunung api dapat terjadi dalam waktu yang berdekatan.

Sementara itu, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Rita Susilawati, mengatakan erupsi yang terjadi dalam waktu bersamaan tidak berarti memiliki proses geologi yang saling berkaitan. Menurutnya, Indonesia memiliki 127 gunung api aktif dengan sistem magmatik yang berbeda, sehingga aktivitas erupsi masing-masing gunung memiliki proses tersendiri.

"Bersamaan waktunya, belum berarti berhubungan prosesnya," ujar Rita.

Rita juga mengatakan pihaknya tidak menemukan bukti adanya satu proses geologi yang memicu seluruh erupsi tersebut secara bersamaan pada 31 Agustus 2026. Masyarakat juga diminta tidak langsung mengaitkan erupsi dengan setiap kejadian gempa bumi.

Data letusan sebelumnya dan peta geologi juga menjadi bahan pertimbangan dalam pemantauan gunung api. Kondisi tersebut penting mengingat Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik dan pertemuan tiga lempeng tektonik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....