Unsur Autentik Tulisan dan Ilustrasi Sastra Anak Dinilai Tetap Kuat di Era AI

  • 28 Agt 2026 21:58 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dinilai tidak serta-merta mengancam keberadaan karya sastra anak yang dibuat secara autentik. Sentuhan manusia dan kepekaan kreator justru dinilai menjadi nilai penting yang tetap dicari pembaca.

Hal tersebut disampaikan juri Penghargaan Sastra Anak TaCita 2026 sekaligus akademisi FSRD ITB, Riama Maslan Sihombing dalam momen Penghargaan Sastra Anak TaCita 2026, di Hotel Sawunggaling, Kota Bandung, Jumat 28 Agustus 2026.

Riama mengatakan, AI memang telah merambah berbagai bidang kreatif, termasuk teknologi dan ilustrasi. Namun, terdapat sejumlah aspek dalam penciptaan buku anak yang menurutnya tidak mudah digantikan teknologi di antaranya sastra, artistik, kedalaman makna, sudut pandang anak, dan perluasan imajinasi

Menurutnya, buku anak juga tidak hanya membutuhkan kemampuan menulis dan membuat ilustrasi. Ada proses penyuntingan yang membutuhkan kepekaan manusia untuk menentukan bagian cerita yang perlu ditekankan, dikurangi, maupun dikembangkan.

"AI sudah merambah ke semua aspek yang sebelumnya dikerjakan manusia, dalam teknologi dan ilustrasi juga demikian. Dengan kelima aspek tadi, mungkin AI tidak bisa memiliki semuanya, terutama karena tidak mengeluarkan nilai otentiknya. Kelima hal itu harus bersatu dan manusia seperti penulis, ilustrator, hingga editor punya kepekaan yang AI tidak punya," ujar Riama, Jumat 28 Agustus 2026.

Pandangan serupa disampaikan Maharanie Septi N. Penulis buku 'Menanti Ayah' yang merupakan pemenang Penghargaan Sastra Anak TaCita 2026. Sebagai kreator, ia mengaku tidak terlalu khawatir dengan canggihnya teknologi AI sekarang.

Maharanie justru melihat masyarakat semakin cerdas dalam menilai sebuah karya. Menurutnya, pembaca tetap dapat memberikan apresiasi lebih terhadap karya yang memiliki sentuhan dan proses kreatif manusia.

"Saya yakin pembaca buku, khususnya buku anak, akan jauh lebih menghargai karya-karya yang orisinal," katanya.

Ia mengatakan, karya yang dibuat tanpa AI mungkin tidak selalu terlihat semewah atau secanggih hasil teknologi tersebut. Namun, keaslian ide dan sentuhan manusia tetap memberikan nilai tersendiri bagi sebuah karya.

Maharanie juga berharap perkembangan teknologi tidak membuat kreator meninggalkan karakter dan keaslian karya. Menurutnya, sastra anak tetap membutuhkan karya yang mampu menghadirkan pengalaman, emosi, dan perspektif anak secara nyata.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....