Buku 'Menanti Ayah' Raih Penghargaan Sastra Anak TaCita 2026

  • 28 Agt 2026 20:33 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Buku berjudul 'Menanti Ayah' karya Maharanie Septi N meraih Penghargaan Sastra Anak TaCita 2026 setelah melalui proses kurasi dari tim juri dari total 116 karya yang masuk. Penghargaan tersebut diberikan Yayasan Cita Cerita Anak (TaCita) dalam bersamaan dengan kegiatan Museum Mini Suyadi di Hotel Sawunggaling, Bandung, Jumat 28 Agustus 2026.

Maharanie mengaku tidak menyangka karyanya terpilih sebagai pemenang. Ia bahkan sempat merasa 'Menanti Ayah' tidak akan menjadi karya terbaik pada ajang itu, dalam momen pengumuman sendiri terdapat lima karya yang menjadi nominasi terbaik sebelum 'Menanti Ayah' diumumkan sebagai pemenang.

Bagi Maharanie, kemenangan tersebut memiliki makna emosional. Ia mengaku terharu hingga menangis karena buku Menanti Ayah lahir dari kenangan tentang sosok ayah dan perjuangannya ketika ia masih kecil.

"Saya tidak menyangka akan terpilih. Saya merasa sepertinya tidak akan menang. Jadi, reaksinya cukup kaget tadi. Perasaannya haru. Sampai menangis juga, sebenarnya melalui buku ini saya sedang mengingat ayah dan perjuangannya." ujar Maharanie, Jumat 28 Agustus 2026.

Buku tersebut mengangkat perjuangan seorang ayah dari perspektif anak. Maharanie mengatakan, ide cerita berangkat dari pengalaman pribadinya ketika melihat sang ayah berusaha memenuhi kebutuhan keluarga dengan berbagai pekerjaan.

Ayah sang penulis itu dikatakannya pernah membuka warung soto, membuat kerupuk hingga berjualan ayam. Salah satu kenangan yang paling melekat adalah ketika ia melihat kaki sang ayah yang pecah-pecah setelah bekerja, namun tetap membonceng dirinya dengan sepeda motor.

"Ingatan-ingatan itu justru semakin kuat ketika saya sudah menjadi seorang ibu. Ketika menulis buku ini, saya kembali mengingat pengalaman tersebut. Itu yang kemudian menjadi inspirasi saya dalam buku ini," katanya.

Sementara itu, juri Penghargaan Sastra Anak TaCita 2026 yang juga akademisi dari FSRD ITB, Riama Maslan Sihombing, mengatakan karya yang dinilai harus memiliki keunggulan dari sisi sastra dan artistik, kedalaman makna, serta kuat dalam menghadirkan sudut pandang anak.

Selain itu, karya juga diharapkan mampu memperluas imajinasi dan wawasan anak. Menurut Riama, buku-buku yang masuk penilaian memiliki kualitas masing-masing, namun Menanti Ayah dinilai paling unggul secara keseluruhan.

"Yang kami pilih harus memiliki keunggulan dalam sastra dan artistik, kedalaman makna, serta sudut pandang anak. Di samping itu juga perluasan imajinasi dan wawasan anak," ujar Riama, Jumat 28 Agustus 2026.

Penghargaan Sastra Anak TaCita telah digelar untuk kedua kalinya, setelah sebelumnya penyelenggaraan perdana berlangsung pada tahun 2024. Dalam prosesnya, TaCita menerima karya dari penerbit maupun masyarakat untuk kemudian melalui tahapan kurasi dan penjurian.

Bagi sang juara, yaitu Maharanie, penghargaan tersebut juga menjadi momentum untuk mendorong semakin banyak buku anak Indonesia yang mampu menyuarakan perspektif anak. Senada dengan Maharanie, Riama juga mengatakan bahwa buku anak-anak harus mampu merepresentasikan mereka, hal itu perlu didukung unsur sastra dan artistik yang kuat.

"Saya setuju bahwa buku anak harus bisa mewakili ataupun berbicara untuk anak-anak sendiri. Itu yang dibutuhkan oleh anak-anak, perspektif anaknya harus kuat. Hal itu didukung dari sastra dan juga artistik, terutama dari sisi visualnya. Semuanya merupakan satu kesatuan dan tidak bisa berdiri sendiri," kata Riama menambahkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....