SITH dan FTI ITB Edukasi Penerapan Teknologi Alternatif Pengolahan Sampah
- 22 Agt 2026 15:37 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Tim Pengabdian Masyarakat (PM) Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) dan Fakultas Teknologi Industri (FTI) Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan skema bottom-up untuk pengolahan sampah organik di Jawa Barat. Program ini diusulkan ke Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB sebagai alternatif teknologi tepat guna yang mampu menghasilkan produk bernilai tambah bagi masyarakat sekitar.
Lokasi sasaran berada di Kota Bandung, dengan peserta dari tiga kelurahan di sekitar kampus ITB, yakni Kelurahan Tamansari, Cipaganti yang dekat dengan Instalasi Pengolahan Sampah Terpadu (IPST) ITB, serta Lebak Siliwangi. Anriansyah Renggaman, M.Sc., Ph.D., ketua tim, menjelaskan bahwa fokus utama program adalah menyediakan solusi praktis yang bisa langsung diterapkan di tingkat rumah tangga maupun komunal RT/RW.
“Kami ingin pengabdian masyarakat di sekitar kampus ITB memberikan teknologi tepat guna yang menghasilkan produk benar-benar bernilai tambah, yang bisa digunakan masyarakat sekitar kampus,” ujar Anriansyah saat kegiatan PM pengolahan sampah di Instalasi Pengolahan Sampah Terpadu (IPST) ITB, Sabtu 22 Agustus 2026.
Sampah organik yang diolah berasal dari sisa makanan rumah tangga, maupun dedaunan pekarangan warga. Melalui metode pengolahan biologis secara aerobik maupun anaerobik yang ditawarkan, menghasilkan beberapa produk bernilai tambah. Warga dapat memperoleh biogas, pupuk organik padat (vermikompos), pupuk organik cair, hingga cacing tanah.
“Utamanya bisa ke biogas, pupuk organik cair, pupuk organik padat, dan cacing tanah. Namun warga bebas memilih bagian teknologi mana yang mereka minati. Nanti kami sesuaikan dengan kondisi lapangan dan kebutuhan mereka,” jelas Anriansyah.
Program ini dirancang khusus untuk mengatasi persoalan sampah organik di Bandung. Ketika sampah organik menumpuk di tingkat pengepul, bau tidak sedap segera muncul, serangga berdatangan, dan risiko penularan penyakit meningkat.
Dengan mengolah sampah langsung di sumbernya, dampak negatif tersebut diharapkan berkurang secara signifikan. Teknologi yang dikembangkan bersifat fleksibel.
Tim tidak menetapkan target volume tertentu, melainkan menyesuaikan skala dengan sumber daya dan volume sampah yang tersedia di warga. Sistem bisa di-scale up maupun scale down sesuai kondisi setempat.
“Kalau warga ingin sistem komunal 100 kilogram per minggu, kami bantu rancang. Target kami adalah kebutuhan riil di tingkat rumah tangga dan RT/RW,” kata Anriansyah.
Transfer teknologi dilakukan melalui diskusi intensif bersama warga. Tim siap membantu merancang sistem sesuai dana yang dimiliki masyarakat. Meski demikian, penyediaan sumber daya secara penuh akan diseleksi berdasarkan tingkat urgensi kebutuhan di lapangan.
Kerja sama dengan pemerintah tidak bersifat langsung. Program ini lahir dari permintaan Pemerintah Kota Bandung dan Provinsi Jawa Barat kepada DPMK ITB terkait isu sampah. DPMK kemudian menyediakan dana bagi dosen untuk mengembangkan alternatif teknologi yang bisa dipilih warga. Kerja sama ITB dengan Pemkot Bandung dan Pemprov Jabar tetap terjalin melalui lembaga tersebut.
Sartika Indah Amalia Sudiarto, S.Si., M.Sc., Ph.D., dosen anggota tim SITH, menuturkan bahwa minat warga dari tiga kelurahan ternyata tidak seragam. Warga Tamansari yang sudah memiliki sistem pembuatan pupuk organik lebih tertarik pada biogas. Sebaliknya, warga Cipaganti dan Lebak Siliwangi memilih teknologi produksi pupuk organik karena lebih sederhana dan langsung bisa diaplikasikan pada tanaman.
“Hanya dari tiga kelurahan sekitar kampus saja, kebutuhannya sudah berbeda-beda. Makanya diskusi langsung dengan warga sangat penting agar kita bisa merancang jalan tengah antara kebutuhan mereka dan teknologi yang kami miliki,” papar Sartika.
Kata Sartika, pendekatan partisipatif ini menjadi kunci keberhasilan program. Dengan melibatkan warga sejak awal, teknologi yang diterapkan diharapkan benar-benar sesuai dan berkelanjutan.
Biogas Bisa Gantikan LPG hingga Operasikan Genset
Dr. Rahmat Romadhon, S.T., M.T., dosen Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITB yang menangani aspek biogas, menjelaskan bahwa salah satu hasil pengolahan sampah organik adalah biogas sebagai sumber energi. Namun, biogas mentah mengandung CO₂ sekitar 30–35 persen dan H₂S yang harus dimurnikan agar bisa digunakan secara optimal.
CO₂ mengurangi nilai kalor sehingga api berwarna merah dan kurang panas, sementara H₂S menimbulkan bau telur busuk sekaligus bersifat korosif. Proses pemurnian dilakukan dengan kapur tohor (CaO) untuk menangkap CO₂, manganese green sand untuk mengikat H₂S, serta karbon aktif untuk menghilangkan bau.
Hasilnya adalah biogas dengan kemurnian tinggi yang menghasilkan api biru dan aman bagi peralatan logam. “Biogas yang sudah dimurnikan bisa langsung disambungkan ke kompor khusus dengan sedikit modifikasi burner untuk menggantikan LPG di rumah tangga. Dalam skala lebih besar, bisa untuk genset hingga bahan bakar kendaraan,” ujar Rahmat.
Ia sendiri pernah mengoperasikan genset 5 kilowatt menggunakan biogas. Potensi penerapan sangat bergantung pada volume bahan baku. Semakin besar volume sampah organik yang diolah, semakin besar pula biogas yang dihasilkan.
Dengan pendekatan yang adaptif dan berorientasi pada kebutuhan nyata masyarakat, program PM SITH dan FTI ITB ini diharapkan menjadi model pengolahan sampah organik yang berkelanjutan di tingkat lokal. Sekaligus, program ini berkontribusi mengurangi beban pengelolaan sampah di Kota Bandung secara keseluruhan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....