Sektor yang Terdampak El Nino 2026: Pertanian Rentan, Perikanan Bisa Diuntungkan

  • 13 Agt 2026 17:50 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Pusat Perubahan Iklim (PPI) Institut Teknologi Bandung (ITB) menyebut pertanian dan ketersediaan air bersih menjadi sektor yang paling sensitif terhadap dampak El Nino 2026-2027. Di sisi lain, fenomena ini juga berpotensi memberikan dampak positif bagi sejumlah sektor di laut, salah satunya perikanan tangkap.

Ketua Tim Pakar PPI ITB, Dr. Tri Wahyu Hadi, mengatakan pertanian khususnya tanaman padi, perlu menjadi perhatian selaman fenomena ini berlangsung. Keterlambatan musim hujan akibat El Nino skala kuat hingga sangat kuat bisa menggeser produktivitas pertanian bahkan hingga ke waktu tanam.

"Kalau sektor yang paling sensitif itu pertanian, terutama pertanian padi karena itu komoditas utama atau pangan," ujar Tri Wahyu saat ditemui usai dialog interaktif PPI ITB mengenai 'El Nino Sangat Kuat 2026-2027 dan Potensinya di Indonesia', di Gedung PAU ITB, Kamis 13 Agustus 2026.

Selain pertanian, ketersediaan air bersih juga menjadi perhatia dimana peningkatan kapasitas penyediaan air perlu dilakukan untuk mengantisipasi kekeringan yang lebih tinggi dibandingkan kondisi normal. Pemerintah daerah juga perlu menyesuaikan dukungan berdasarkan tingkat kebutuhan di lapangan, termasuk menambah fasilitas distribusi air jika diperlukan.

El Nino juga berpotensi memicu bencana alam, seperti kebakaran hutan. Karena itu, kesiapan sektor kebencanaan menjadi bagian penting dalam menghadapi peningkatan risiko kekeringan.

Meski demikian, Tri Wahyu mengatakan El Nino tidak sepenuhnya memberikan dampak negatif. Salah satu sektor yang berpotensi mendapatkan manfaat adalah perikanan tangkap di wilayah selatan Indonesia, khususnya Samudra Hindia.

Fenomena El Nino dapat memicu upwelling, yakni naiknya air dingin dari laut dalam ke permukaan. Kondisi tersebut membawa nutrisi yang dapat meningkatkan produktivitas perairan dan berpotensi menambah hasil tangkapan ikan.

"Di sektor perikanan tangkap di selatan Indonesia, di Samudra Hindia, itu biasanya meningkat karena ada fenomena lain yang kita sebut upwelling. Naiknya air dingin dari laut dalam ke permukaan itu meningkatkan nutrisi untuk ikan," kata Tri Wahyu menjelaskan.

Selain sektor perikanan yang berpotensi diuntungkan fenomena ini, terdapat sejumlah sektor lainnya yang juga memiliki keunggulan karena fenomenan ini. Salah satunya sektor produksi garam karena jumlah hari cerah yang lebih banyak dapat mendukung aktivitas pengolahan garam.

Kemudian dari sektor energi kondisi hari cerah yang lebih banyak dapat meningkatkan potensi pemanfaatan energi surya. Meskipun di sisi lain, produksi pembangkit listrik tenaga air berpotensi menurun akibat berkurangnya ketersediaan air.

"Selain perikanan, produksi dan pengolahan garam juga diuntungkan karena jumlah hari cerah lebih banyak, ada juga dari sektor energi, solar panel bisa lebih produktif," ujar Tri Wahyu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....