UPI Kembangkan Coffee Passport, Identitas Ilmiah Kopi Indonesia

  • 28 Jul 2026 17:11 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melalui Kelompok Riset Instrumentasi Lingkungan menghadirkan inovasi baru berupa Quantifiable Coffee Identity (QCI) atau Coffee Passport, sebuah teknologi yang mampu mengidentifikasi karakter kopi secara ilmiah melalui fingerprint fisikokimia. Inovasi ini dikembangkan sebagai upaya meningkatkan standardisasi mutu sekaligus memperkuat daya saing kopi Indonesia di pasar internasional dengan sistem identifikasi yang objektif, terukur, dan dapat ditelusuri.

Pengembangan Coffee Passport merupakan kelanjutan dari roadmap riset UPI di bidang instrumentasi lingkungan. Setelah pada 2025 mengembangkan sistem Smart Farming Coffee Garut yang memungkinkan pemantauan kondisi kebun kopi dari jarak jauh menggunakan sensor berbasis tenaga surya tanpa jaringan internet, pada 2026 tim peneliti mengalihkan fokus pada penciptaan identitas ilmiah bagi produk kopi. Melalui teknologi QCI, setiap kopi diharapkan memiliki “paspor” yang mampu menjelaskan kualitasnya berdasarkan data ilmiah.

Ketua Kelompok Riset Instrumentasi Lingkungan UPI, Dr. Selly Feranie, M.Si., mengatakan lahirnya Coffee Passport berangkat dari pengalaman tim saat mendampingi petani kopi di Garut. Meski produktivitas kebun meningkat, para petani masih menghadapi kendala dalam meningkatkan nilai jual produknya karena belum memiliki identitas mutu yang kuat dan mudah dipahami pasar.

"Saat kami mendampingi mitra petani kopi di Garut, produksi mereka sudah meningkat. Namun, mereka menyampaikan bahwa produknya masih sulit memiliki nilai tambah karena belum memiliki identitas yang kuat. Di sisi lain, penilaian kualitas kopi selama ini masih sangat bergantung pada persepsi masing-masing penikmat kopi,” ujar Dr. Selly, Selasa, 28 Juli 2026.

Berbeda dengan metode cupping test yang mengandalkan penilaian indera manusia, Coffee Passport menggunakan kombinasi sensor dan analisis data untuk menghasilkan identitas unik setiap kopi. Teknologi ini mengukur sedikitnya lima parameter utama, yakni profil aroma, tingkat keasaman (pH), Electrical Conductivity (EC), Total Dissolved Solids (TDS), serta karakteristik warna berbasis komposisi RGB. Seluruh data tersebut kemudian diproses menjadi fingerprint digital yang menjadi identitas khas dari masing-masing produk kopi.

Dalam proses pengujian, tim peneliti menggunakan kopi Arabika Garut yang diproses secara natural dan diseduh dengan air bersuhu sekitar 90 derajat Celsius. Pada suhu tersebut, sensor MQ-135 mampu menangkap senyawa volatil yang berkaitan dengan karakter aroma hasil fermentasi.

Selanjutnya sistem menganalisis nilai TDS, EC, suhu, tingkat ekstraksi, komposisi warna menggunakan sensor TCS3200, hingga nilai pH setelah suhu sampel turun di bawah 50 derajat Celsius. Hasil pengukuran tersebut menghasilkan identitas digital yang konsisten sehingga karakter kopi dari berbagai daerah dapat dibedakan secara ilmiah.

Dr. Selly menjelaskan, Coffee Passport merupakan bagian dari konsep besar Quantifiable Coffee Identity (QCI) yang akan terus dikembangkan. Ke depan, sistem ini tidak hanya mengidentifikasi karakter larutan kopi, tetapi juga akan mengintegrasikan informasi mengenai kondisi tanah, lokasi geografis, iklim, hingga kandungan nutrisi lahan sehingga identitas kopi menjadi lebih komprehensif.

"Coffee Passport bukan hanya memberikan identitas terhadap produk kopi. Ke depan, kami ingin membangun identitas kopi Indonesia secara utuh, mulai dari kondisi tanah, lokasi geografis, iklim, proses budidaya, hingga karakter larutan kopinya. Dengan demikian, setiap kopi memiliki paspor ilmiah yang dapat memperkuat branding sekaligus meningkatkan kepercayaan pasar,” kata Dr. Selly.

Pengembangan inovasi ini melibatkan kolaborasi lintas disiplin, mulai dari peneliti bidang fisika, instrumentasi, rekayasa perangkat lunak, Internet of Things (IoT), farmasi, hingga mahasiswa Program Studi Fisika UPI.

Melalui pendekatan problem solver researcher dan pembelajaran berbasis proyek, prototipe Coffee Passport berhasil diwujudkan hanya dalam waktu sekitar dua bulan. Teknologi tersebut kini telah diterapkan pada produk UP GAR Garut Coffee sebagai tahap awal hilirisasi hasil penelitian.

UPI juga tengah menyiapkan perlindungan paten untuk Coffee Passport sekaligus mengembangkan Indonesia Coffee Database, yakni basis data nasional yang akan menghimpun fingerprint berbagai varietas kopi dari seluruh Indonesia.

Setelah bekerja sama dengan petani kopi di Garut, UPI mulai menerima minat kolaborasi dari sejumlah daerah lain, termasuk Lampung. Basis data tersebut diharapkan menjadi fondasi standardisasi mutu, sertifikasi produk, perlindungan indikasi geografis, hingga memperkuat posisi kopi Indonesia di pasar global.

Dr. Selly menegaskan inovasi ini tidak hanya berorientasi pada pengembangan teknologi, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi petani, UMKM, dan industri kopi nasional.

"Inovasi ini kami kembangkan bukan semata-mata menghasilkan teknologi, tetapi menghadirkan solusi yang memberikan manfaat langsung bagi petani, UMKM, dan industri kopi. Jika kopi Indonesia memiliki identitas ilmiah yang kuat, maka nilai tambah produknya akan meningkat dan daya saingnya di pasar global juga semakin kuat,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....