Bank Sampah Resmi Dibuka di Sadang Serang, Kolaborasi SAPPK ITB dan DLH Kota Bandung

  • 08 Jul 2026 15:04 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Upaya mengurangi timbulan sampah di Kota Bandung terus diperkuat melalui pembukaan Bank Sampah di Saung Egang RW 20, Kelurahan Sadang Serang, Kecamatan Coblong, pada Rabu 8 Juli 2026. Program ini merupakan bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang diinisiasi Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung dan pengelola Saung Egang.

Kehadiran bank sampah tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumber sekaligus memberikan nilai ekonomi dari sampah anorganik yang selama ini masih banyak terbuang. Guru Besar SAPPK ITB, Prof. Dr.Ir Yogi, mengatakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut tidak berhenti pada pembukaan bank sampah, melainkan akan terus berlanjut melalui berbagai program pendampingan.

"Di sini dilaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat untuk penanggulangan sampah. Kegiatan ini akan terus berlanjut. Ke depan mungkin akan ada KKN mahasiswa yang berfokus pada penanggulangan sampah. Selain itu juga direncanakan bersama pihak-pihak lainnya untuk pengembangan bank sampah. Kolaborasi antara ITB, Pemerintah Kota Bandung, dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan terus dilakukan," ujarnya, di lokasi peresmia, Rabu 8 Juli 2026.

Ia menjelaskan, Kelurahan Sadang Serang dipilih sebagai lokasi kegiatan karena berada di sekitar lingkungan Kampus ITB. Pada awal pelaksanaan, tim mendapat tugas memberikan penyuluhan pengelolaan sampah di wilayah sekitar kampus, kemudian Kecamatan Coblong menetapkan Kelurahan Sadang Serang sebagai lokasi pelaksanaan program.

Menurut Prof. Yogi, perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah mulai terlihat setelah dilakukan edukasi secara berkelanjutan. Warga kini mulai terbiasa memilah sampah organik dan anorganik, berbeda dengan sebelumnya yang seluruh sampah langsung dibuang tanpa dipisahkan.

Ia menambahkan, keberadaan bank sampah juga memberikan manfaat ekonomi karena sampah anorganik yang telah dipilah dapat ditabung dan memiliki nilai jual. Dari sisi perencanaan kota, konsep bank sampah dinilai menjadi salah satu solusi yang dapat diterapkan secara luas untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir.

"Sampah tidak mungkin terus ditimbun di tempat pembuangan akhir karena kapasitasnya akan semakin terbatas. Bank sampah dapat menjadi salah satu solusi pengelolaan sampah di Kota Bandung," katanya.

Sementara itu, Penyuluh Kebersihan Bidang Pengelolaan Kebersihan dan Sampah (PKBS) DLH Kota Bandung, Ayu Kusmawati, mengatakan Pemerintah Kota Bandung saat ini tengah berupaya keras menekan volume sampah yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti. Saat ini, volume sampah dari Kota Bandung yang dapat diterima oleh TPA Sarimukti yang kapasitasnya mendekati penuh terus menyusut.

Menurutnya, apabila sistem pengelolaan sampah masih mengandalkan pola kumpul, angkut, dan buang hingga Agustus mendatang dengan jumlah yang besar. Karena itu, pengurangan sampah dari sumber menjadi langkah yang terus didorong.

"Sebelumnya Kota Bandung menghasilkan sekitar 1.500 ton sampah per hari. Saat ini harus ditekan menjadi sekitar 900 ton per hari, bahkan mulai Agustus nanti ditargetkan menjadi 650 ton per hari," ujarnya.

Ayu menjelaskan, pengurangan sampah organik dilakukan melalui Program Gaslah yang ditargetkan mampu mengolah 25 kilogram sampah organik per hari di setiap RW melalui 1.596 titik pengolahan. Sementara untuk sampah anorganik, DLH menggandeng berbagai pihak di tingkat kewilayahan untuk membangun ekosistem bank sampah dan memperkuat jaringan dengan pengepul maupun pelaku daur ulang.

Ia menilai bank sampah memiliki daya tarik tersendiri karena selain membantu mengurangi volume sampah, juga mampu memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat melalui penerapan ekonomi sirkular.

"Memang hasilnya tidak langsung besar, tetapi jika dilakukan secara konsisten nilainya bisa cukup signifikan. Bahkan pernah ada nasabah bank sampah yang tabungannya mencapai sekitar Rp6 juta dalam satu tahun. Pengurus bank sampah juga dapat memperoleh penghasilan dari sistem bagi hasil. Ini menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat," kata Ayu.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat, Bank Sampah Saung Egang diharapkan menjadi contoh pengelolaan sampah berbasis komunitas yang mampu mengurangi beban sampah Kota Bandung sekaligus meningkatkan partisipasi warga dalam mewujudkan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....