Mandiri lewat Sayuran, Ketahanan Pangan ala Al-Ittifaq Ciwidey
- 09 Mei 2026 13:55 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Ketua Koperasi Pondok Pesantren (Koponoen) Al-Ittifaq, Agus Setia Irawan mengatakan berkebun dan beternak memang masuk dalam kurikulum pesantren. Bagi santri salaf di Al-Ittifaq, kegiatan mengaji hanya dilakukan setelah salat berjamaah lima waktu.
“Istilahnya bertani menjadi bagian kurikulum di pesantren salaf atau tradisional. Jadi ngajinya itu selesai ba’da salat, sisa waktunya kita gunakan untuk kegiatan pertanian, packaging, peternakan juga," kata Agus, Sabtu 9 Mei 2026.
Santri Al-Ittifaq dibagi menjadi tiga kelompok. Yang pertama bertugas di perkebunan untuk menanam, merawat hingga memanen hasil pertanian.
Yang kedua, bertugas mengolah pasca panen meliputi pengemasan hingga mengurus rantai distribusi. Yang terakhir, bertugas mengurus ternak.
Al-Ittifaq diasuh oleh Kiai Haji Fuad Affandi yang merupakan generasi ketiga pendiri ponpes Al-Ittifaq. Yaitu pesantren yang sudah berdiri di kawasan dataran tinggi Rancabali sejak 1934.
“Awal berdirinya ponpes Al-Ittifaq adalah pesantren yang hanya fokus pada pendidikan keagamaan. Namun berkembang merambah ke bidang ilmu pertanian," jelas Fuad yang lebih akrab di panggil Mang Haji.
Sepulangnya Mang Haji dari menimba ilmu di Ponpes Lasem, Jawa Tengah di tahun 1970, ia diberi mandat untuk mengganti peran bapaknya, Abah Haji Rifai sebagai pengasuh Ponpes. Dan ia belajar memimpin pesantren itu.
Di awal kepimpinannya, ia merubah kurikulum pesantren. Dasar pemikirannya sederhana, yaitu bagaimana caranya agar pesantren bisa lebih mandiri. Kala itu, bukanlah pekerjaan mudah untuk bisa menghidupi puluhan santri yang belajar di Al-Ittifaq. Alhasil pertanian pun dipilih Fuad untuk memenuhi kebutuhan pangan santrinya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....