Ubah Sampah Plastik Menjadi Paving Block Ramah Lingkungan

  • 26 Apr 2026 14:29 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Institut Teknologi Bandung (ITB), melalui tim Ganesha Operation Plastic (GaneOpTic), mengolah sampah plastik menjadi paving block ramah lingkungan. Hal ini tidak hanya membantu mengurangi timbunan sampah, tetapi juga mendukung kebutuhan infrastruktur masyarakat. Pengolahan ini menjadi upaya menjawab persoalan nyata di masyarakat melalui inovasi teknologi.

Teknologi ini telah diterapkan di Desa Pulau Balai, salah satu pulau di Kepulauan Banyak, Kabupaten Aceh Singkil, pada 2025. Di wilayah pesisir tersebut, sampah plastik menjadi salah satu persoalan masyarakat, selain kerusakan jalan dan keterbatasan infrastruktur. Lewat pendekatan teknologi tepat guna, tim ITB menghadirkan solusi yang mengatasi dua persoalan tersebut.

Tim dari Berbagai Perguruan Tinggi

Program ini dijalankan oleh tim GaneOpTic ITB yang diketuai oleh Dr. Megawati Zunita, S.Si., M.Si. dari Teknik Kimia ITB. Tim ini juga melibatkan dosen peneliti dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, antara lain Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI), Universitas Insan Budi Utomo (UIBU), serta Universitas Malikussaleh (Unimal).

Dalam rangkaian program tersebut, tim menyerahkan alat smelter, memberikan materi mengenai daur ulang plastik, laut bebas sampah, dan pemberdayaan masyarakat. Itu sekaligus mendampingi warga dalam praktik langsung pembuatan paving block dari sampah plastik.

Dr. Megawati Zunita mengatakan, “Banyaknya sampah plastik yang terbawa arus menumpuk di pesisir pantai Pulau Balai, sebuah pulau kecil yang merupakan salah satu pulau dari Kepulauan Banyak, Kabupaten Singkil. Tim ITB membawakan teknologi terapan, pembuatan paving block dari plastik, sekaligus menjawab kebutuhan infrastruktur trotoar yang juga menjadi tantangan.”

Teknologi Diterapkan di Kabupaten Singkil

"Penerapan teknologi ini berangkat dari kondisi nyata di Pulau Balai. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Aceh Singkil, timbunan sampah plastik di Kecamatan Pulau Banyak mencapai 668 ton per tahun, dengan plastik menjadi jenis sampah terbanyak kedua, yakni 22 persen. Kondisi ini menjadi perhatian karena Pulau Balai memiliki potensi wisata bahari yang besar, namun menghadapi tantangan pengelolaan sampah dan pemeliharaan infrastruktur," ungkap Dr. Megawati, Minggu 26 April 2026.

Melalui program pengabdian masyarakat, tim GaneOpTic membawa alat smelter untuk mengolah limbah plastik menjadi paving block. Prosesnya diperlihatkan secara langsung kepada warga, mulai dari pemilahan dan pengeringan plastik, peleburan pada suhu tertentu, penuangan ke dalam cetakan, hingga proses pendinginan sampai menjadi paving block siap pakai.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....