ITB: AI Bantu Industri Migas, Hemat Jutaan Dolar
- 25 Mar 2026 20:37 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) meraih gelar Champion pada Hackathon Competition IPFEST 2026. Yaitu berkat inovasi kecerdasan buatan (AI) yang berpotensi membantu industri migas bekerja lebih efisien, cepat, dan akurat dalam menentukan sumur yang perlu diintervensi.
Tim bernama Hengker Berkelas itu beranggotakan Afdinal Ghibran Batubara dan Rivo Parhorasan Manalu dari Program Studi Teknik Perminyakan angkatan 2022, serta Ghazy Achmed Movlech Urbayani dari Program Studi Sistem Teknologi dan Informasi angkatan 2023. Dalam kompetisi tersebut, mereka mengembangkan sistem screening kandidat sumur intervensi berbasis machine learning. Sistem ini dirancang untuk membantu engineer menyeleksi sumur yang membutuhkan tindakan lebih lanjut secara lebih cepat dan berbasis data.
Seiring semakin matangnya lapangan migas dan meningkatnya volume data produksi, proses seleksi sumur secara manual menjadi semakin rumit, memakan waktu, dan berisiko menimbulkan bias. Melalui sistem yang mereka kembangkan, pola-pola yang menunjukkan adanya masalah produksi dapat dikenali lebih awal, sehingga kandidat sumur intervensi dapat diidentifikasi dengan lebih sistematis.
Inovasi tersebut dinilai memiliki potensi dampak yang besar bagi industri energi, khususnya di Indonesia. Dengan memangkas waktu evaluasi teknis, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi kerja dan mempercepat siklus pengembangan lapangan. Sistem ini juga berpotensi menekan risiko kesalahan akibat bias kognitif maupun human error dalam pengambilan keputusan.
Tak hanya itu, solusi yang dirancang Tim Hengker Berkelas diproyeksikan dapat membantu perusahaan menghemat hingga jutaan dolar dengan mengurangi kemungkinan intervensi sumur yang kurang tepat sasaran. Dari sisi keekonomian, tim juga melakukan evaluasi menggunakan pendekatan stokastik untuk menilai pengaruh sistem terhadap nilai ekonomi proyek dan efektivitas siklus pengembangan. Aspek inilah yang menjadi salah satu kekuatan mereka dalam kompetisi.
"Meski begitu, sistem tersebut saat ini masih berada pada tahap simulasi. Ke depan, pengembangannya masih terbuka luas, mulai dari penambahan variasi data, integrasi dengan data lapangan aktual, hingga proses kalibrasi agar sistem mampu mengenali karakteristik unik masing-masing lapangan migas. Dengan pengembangan itu, sistem diharapkan menjadi lebih andal, adaptif, dan siap diterapkan di dunia industri," ungkap Afdinal Ghibran Batubara, salah satu anggota Tim Hengker Berkelas ITB, Rabu 25 Maret 2026.
Dalam merancang solusi, tim memulai prosesnya dengan menelaah jurnal ilmiah dan berbagai referensi industri untuk memahami persoalan utama yang dihadapi. Setelah itu, mereka memetakan faktor-faktor penyebab dan memilih pendekatan solusi yang paling potensial.
Kolaborasi lintas disiplin menjadi kekuatan utama tim ini. Perspektif teknik perminyakan membantu memahami karakteristik sumur dan masalah produksi secara lebih mendalam, sedangkan perspektif teknologi informasi memperkuat sisi algoritma, otomasi, dan pengembangan sistem. Perpaduan keduanya menghasilkan solusi yang komprehensif dan relevan dengan kebutuhan industri energi saat ini.
Untuk menjaga efektivitas kerja di tengah kesibukan akademik, mereka menerapkan sistem kerja modular. Setiap anggota memegang tanggung jawab spesifik yang dapat dikerjakan secara paralel, sehingga proses pengembangan tetap berjalan efisien hingga tahap presentasi akhir.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....