Konsep Kota Pesisir Berbasis Iklim Berpotensi Turunkan Suhu

  • 01 Mar 2026 21:24 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Kelvin Narada Gunawan, mahasiswa Program Magister Rancang Kota Institut Teknologi Bandung (ITB), menorehkan prestasi akademik membanggakan melalui tesis rancang kota yang dinobatkan sebagai Tesis Terbaik S2 Rancang Kota ITB Tahun 2024 oleh lingkungan akademik Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK).

Dengan capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00, Kelvin mengangkat tesis berjudul “Design Review Kota Iklim Pesisir dengan Pendekatan Climate Sensitive Urban Design”. Penelitian ini menjawab pertanyaan mendasar mengenai bagaimana kawasan pusat kota di wilayah pesisir Indonesia seharusnya dirancang berbasis iklim, bukan hanya berorientasi pada estetika atau fungsi ekonomi semata.

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan banyak kota berkembang di wilayah pesisir, termasuk kawasan pesisir di Jakarta dan Banten. Namun, karakter iklim pesisir yang khas—seperti angin laut yang relatif lebih kencang, tingkat kelembapan yang tinggi, serta dinamika angin darat dan laut—belum sepenuhnya dimanfaatkan dalam proses perancangan kota.

Kelvin, dalam keterangannya, Minggu 1 Maret 2026, menyoroti bahwa tanpa pendekatan desain yang tepat, kawasan pesisir justru dapat terasa lebih panas dan lembap. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan ketergantungan pada pendingin udara serta menurunkan kenyamanan aktivitas luar ruang, terutama bagi pejalan kaki.

Melalui pendekatan Climate Sensitive Urban Design dan simulasi mikro kalimat berbasis ENVI-met, Kelvin merancang konfigurasi kawasan pusat kota pesisir yang mampu menurunkan suhu udara hingga sekitar 2 derajat Celsius. Dalam konteks iklim tropis, penurunan ini tergolong signifikan karena berpengaruh terhadap kenyamanan termal, efisiensi energi, serta kualitas ruang publik secara keseluruhan.

Kelvin menuturkan bahwa kota pesisir memiliki karakter iklim yang berbeda dibandingkan kota di wilayah daratan. Kedekatan dengan laut menghadirkan angin laut yang relatif lebih kencang, dinamika angin laut dan darat yang khas, serta tingkat kelembapan yang lebih tinggi. Karakteristik ini menghadirkan peluang untuk menciptakan lingkungan yang lebih sejuk dan hemat energi, namun sekaligus menjadi tantangan apabila tidak direspons melalui perancangan yang tepat.

“Jika kota pesisir salah didesain, bukannya menjadi lebih nyaman. Orang yang berjalan kaki malah bisa merasa lebih gerah karena kelembapannya lebih tinggi dibanding kota di wilayah dalam daratan. Selain itu, angin yang terlalu kencang juga dapat menimbulkan perasaan ‘masuk angin’ bagi pejalan kaki,” ujar Kelvin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....