Lutpi, Satu-satunya Siswa SLB Lolos Masuk UNESA
- 15 Jun 2025 21:48 WIB
- Bandung
KBRN, Tasikmalaya : Muhamad Lutpi Alamin, lulusan Sekolah Luar Biasa (SLB), Tamansari Kota Tasikmalaya, berhasil menjadi Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA), setelah lolos mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) 2025.
Lutpi merupakan satu-satunya disabilitas yang masuk perguruan tinggi negeri, dari 31 SLB di Tasikmalaya.
Muhamad Lutpi Alamin, penyandang disabilitas netra sejak lahir ini, berasal dari Kampung Situgede RT 01 RW 07, Desa Cibatuireng, Kecamatan Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya.
Kabar gembira lulus seleksi diterima Lutpi saat Ia berada dilingkungan pesantren, tempat Ia menimba ilmu.
“Waktu itu tanggal 28, saat di Pesantren di kampung saya. Ada pengumumannya, saya diterima di UNESA,” ujar Lutpi, saat ditemui di kawasan Jalan RSU Kota Tasikmalaya, Minggu (15/6/2025) sore.
Lutpi yang juga merupakan santri Majelis Taklim Tuna Netra Alhikmah ini, merupakan penghafal Quran.
Untuk pemuda kelahiran Agustus 2001 ini, menembus SNBT tidaklah mudah. Di SLB tempatnya sekolah, tidak sepenuhnya mengajarkan materi ilmu pengetahuan setingkat SMA. Karena itu, sejak Februari 2025, ia belajar secara otodidak melalui YouTube, serta memanfaatkan aplikasi pendidikan seperti Schooling dari Google Playstore.
Baca juga: IIKU-FISS UNPAS Ajak Masyarakat Olah Sampah Bernilai Ekonomis
“Saya berusaha mencari bimbingan belajar di internet. Bimbingan itu tidak hanya untuk disabilitas, tapi juga bisa untuk siswa umum,” ujarnya.
Namun meski gembira diterima di UNESA, Lutpi saat ini justru diliputi kekhawatiran. Biaya pendidikan dan hidup di Surabaya menjadi beban tak ringan bagi keluarganya.
“Untuk sekolah, insyaallah kata mamah sanggup, tapi untuk biaya sehari-hari masih tanda tanya,” kata Lutpi.
Sang ayah, Abdul Kodir Alamin (67), tak kuasa menahan haru ketika anak sulungnya membawa kabar bahagia tersebut. Namun ia sadar bahwa perjuangan belum selesai.
Dengan kondisi yang tengah sakit hampir 5 tahun, Abdul Kodir bingung untuk membiayai putra sulungnya bersekolah. Usaha konveksi yang Ia geluti di Jakarta gulung tikar sejak 2013.
Kini, keluarga Lutpi tengah berupaya menjual sawah dan kebun sebagai satu-satunya sumber dana yang mungkin bisa digunakan untuk mendukung kuliah anaknya.
“mudah- mudahan segera laku, ini untuk anak saya,” ujarnya.
Sementara kisah inspiratif Lutpi mendapat apresiasi dari Muhamad Aqshal Setyawan, penyandang Cerebral Palsy asal Tasikmalaya dan alumni Universitas Perjuangan (Unper) Tasikmalaya, lulusan 2024 dengan IPK 3,75.
“Selamat ya. Belajar itu harus, pintar itu bonus. Untuk Lutpi, teruslah berikhtiar, sejajarkan adab, etika, dan ilmu,” pesan Aqshal.
Ia menambahkan, UNESA merupakan salah satu kampus negeri terbaik yang telah lama mengembangkan pendidikan inklusif.
“Semoga ada uluran tangan dari berbagai pihak untuk meringankan beban Lutpi,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....