KAA Jadi Tonggak Diplomasi Dunia, Peran Budaya sebagai Kekuatan Pemersatu

  • 19 Apr 2026 13:56 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – Konferensi Asia Afrika dinilai sebagai salah satu tonggak terbesar dalam sejarah diplomasi Indonesia yang membawa nama Bandung ke panggung dunia. Peristiwa yang digelar pada 18–24 April 1955 itu bahkan disebut sebagai embrio lahirnya Gerakan Non-Blok yang resmi terbentuk pada 1961.

‎Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, mengatakan sejak awal KAA digagas oleh lima negara pelopor, kemudian berkembang menjadi forum besar yang diikuti puluhan negara Asia dan Afrika.

‎“Konferensi ini menjadi tonggak yang membuat Indonesia, khususnya Bandung, seolah menjadi ibu kota Asia dan Afrika. Semangatnya menyebar ke seluruh dunia,” ujarnya usai peringatan 71 tahun KAA di Hotel Savoy Homann, Minggu 19 April 2026.

‎Ia menambahkan, dokumentasi sejarah berupa foto-foto KAA menunjukkan keakraban para pemimpin dunia saat itu. Hal tersebut mencerminkan kuatnya semangat solidaritas dan persahabatan lintas negara yang menjadi fondasi utama konferensi tersebut.

‎Acara peringatan ini turut dihadiri para duta besar negara sahabat, anggota DPR RI Komisi X, DPRD, kalangan akademisi, seniman, budayawan, hingga insan media. Kehadiran berbagai elemen ini menegaskan bahwa KAA tidak hanya menjadi warisan sejarah, tetapi juga terus hidup dalam berbagai sektor, termasuk kebudayaan.

‎Fadli Zon menekankan pentingnya budaya sebagai soft power atau kekuatan lunak dalam hubungan internasional. Berbeda dengan kekuatan militer (hard power), budaya justru mampu menjadi jembatan yang menyatukan berbagai perbedaan.

‎“Budaya adalah binding power, kekuatan yang menyatukan. Politik seringkali menimbulkan konflik, tetapi budaya justru bisa mempererat hubungan antarbangsa,” katanya.


‎Menurutnya, negara-negara Asia dan Afrika memiliki banyak kesamaan nilai budaya meskipun tetap beragam. Kesamaan inilah yang menjadi salah satu faktor penting dalam mempererat hubungan dan kerja sama antarnegara di kawasan tersebut.

‎Sebagaimana diketahui, Konferensi Asia Afrika diikuti oleh 29 negara yang sebagian besar baru merdeka atau tengah berjuang memperoleh kemerdekaan. Selama enam hari pelaksanaan, para delegasi membahas berbagai isu strategis yang kemudian melahirkan prinsip-prinsip Dasasila Bandung atau Bandung Spirit, mencakup penghormatan terhadap hak asasi manusia, kedaulatan negara, non-intervensi, serta perdamaian dunia.

‎Konferensi tersebut juga membagi pembahasan ke dalam tiga komisi utama, yakni politik, ekonomi, dan kebudayaan, yang menjadi dasar dalam membangun kerja sama internasional yang lebih adil dan setara.

‎Sementara itu, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menambahkan bahwa nilai historis KAA telah diakui dunia internasional. Pada 2015, peristiwa ini ditetapkan sebagai bagian dari UNESCO Memory of the World.

‎“Sepuluh tahun kemudian, pada Agustus 2025, kami mengajukan kepada pemerintah pusat untuk memulai proses pendaftaran kawasan Jalan Asia Afrika dari Simpang V hingga ruas Otista sebagai kawasan warisan dunia UNESCO,” tandasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....