Ke-71 Tahun KAA, Indonesia Tegaskan Komitmen Non-Blok
- 19 Apr 2026 12:17 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika kembali mengingatkan dunia akan pentingnya solidaritas, kesetaraan, dan kerja sama antarbangsa. Tepat 18 hingga 24 April 1955, sebanyak 29 negara dari Asia dan Afrika berkumpul di Kota Bandung untuk menyatukan sikap menghadapi kolonialisme serta memperjuangkan perdamaian global.
Momentum bersejarah tersebut kini kembali digaungkan dalam peringatan yang digelar di Hotel Savoy Homann, Minggu 19 April 2026. Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan, bahwa semangat Bandung atau Bandung Spirit tetap relevan di tengah dinamika dunia yang semakin kompleks.
Ia menyampaikan, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia terus meneguhkan komitmennya untuk berada di jalur non-blok. Artinya, Indonesia tidak berpihak pada aliansi mana pun, namun tetap aktif menjalin kerja sama internasional dengan menjunjung tinggi prinsip-prinsip Perserikatan Bangsa-Bangsa.
“Indonesia akan terus menghormati semua negara dan berperan aktif dalam membangun perdamaian dunia berdasarkan nilai-nilai universal,” ujar Fadli Zon dalam sambutan Peringatan 71 tahun Konferensi Asia Afrika, di Hotel Savoy Homan, Minggu 19 April 2026.
Di dalam negeri, pemerintah juga memperkuat ketahanan nasional sebagai fondasi menghadapi gejolak global. Langkah tersebut diwujudkan melalui penguatan ketahanan pangan, ekonomi kerakyatan, serta pembangunan sumber daya manusia melalui berbagai program prioritas, seperti makan bergizi gratis, koperasi desa Merah Putih, dan sekolah rakyat. Seluruh program ini diarahkan untuk menyongsong visi besar Indonesia Emas 2045.
Ia menekankan bahwa di tengah ketidakpastian global, Bandung Spirit justru menjadi kompas moral yang semakin penting. Menurutnya, perdamaian berkelanjutan hanya dapat tercapai jika kebudayaan dilindungi dan dihormati.
“Tidak boleh ada perang yang menghapus sejarah suatu bangsa, tidak boleh ada dominasi yang mengekang identitas, dan tidak boleh ada sistem global yang mengabaikan suara negara-negara lemah,” tegasnya.
Ia juga mengajak negara-negara Asia dan Afrika untuk memperkuat kerja sama di bidang kebudayaan, termasuk melalui pertukaran pengetahuan, pelestarian warisan budaya, serta penguatan solidaritas Global South dalam menghadapi tantangan dunia.
Pemerintah Indonesia, lanjutnya, menegaskan bahwa politik kebudayaan nasional menempatkan kebudayaan sebagai fondasi utama pembangunan bangsa. Hal ini diyakini mampu menjaga jati diri, memperkuat kedaulatan, sekaligus berkontribusi dalam menciptakan perdamaian dunia.
Menutup sambutannya, ia mengajak seluruh pihak untuk terus menghidupkan semangat Konferensi Asia Afrika sebagai kekuatan moral global. “Perbedaan antarbangsa jangan menjadi sumber perpecahan, tetapi justru menjadi kekuatan untuk membangun dunia yang lebih adil, damai, dan beradab,” tandasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....