Rentan Lalu lintas Hewan, Ini Langkah Pemkot Bandung
- 14 Feb 2026 12:50 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Kota Bandung sebagai kota besar dan kota terbuka dinilai sangat rentan terhadap lalu lintas dan perpindahan hewan. Tingginya mobilitas hewan peliharaan maupun ternak pangan yang masuk dari luar daerah menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kesehatan hewan dan mutu pangan asal hewan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar, menegaskan bahwa pengawasan kesehatan hewan menjadi aspek krusial untuk mencegah potensi penularan penyakit dari hewan ke manusia atau zoonosis.
“Bandung sebagai kota besar dan kota terbuka memiliki mobilitas hewan yang sangat tinggi, baik hewan peliharaan maupun ternak pangan yang sebagian besar dipasok dari luar daerah. Ancaman zoonosis itu nyata. Secara global hampir separuh jenis penyakit pada manusia berasal dari patogen hewan. Kita sudah belajar dari kasus flu burung, rabies hingga PMK. Oleh karena itu, kesehatan hewan, mutu dan kualitas pangan asal hewan harus dijaga bersama,” ujar Gin Gin usai kegiatan Bangsawan Expo (Bandung Jaga Kesehatan Hewan) di Sport Jabar Arcamanik kota Bandung, Sabtu 14 Februari 2026.
Menurutnya, kegiatan Bangsawan Expo digelar sebagai upaya memperkuat kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis sekaligus memastikan kualitas pangan asal hewan tetap terjaga. Kegiatan ini juga menjadi ruang kolaborasi lintas sektor dalam membangun sistem kesehatan hewan yang lebih terintegrasi.
Selain memberikan edukasi kepada masyarakat, Bangsawan Expo menghadirkan kolaborasi antar organisasi perangkat daerah (OPD), komunitas pencinta hewan, perguruan tinggi, peternak, pelaku urban farming hingga komunitas Buruan Sae. Beragam layanan publik turut dihadirkan dalam kegiatan tersebut.
“Mulai dari layanan administrasi kependudukan, ketenagakerjaan, kesehatan, hingga edukasi keselamatan dari dinas kebakaran. Anak-anak pun mendapat ruang hiburan edukatif agar kesadaran menjaga lingkungan tumbuh sejak dini,” katanya.
Tak hanya fokus pada kesehatan hewan, DKPP Kota Bandung juga memperkenalkan inovasi hasil riset Unit Pelaksana Teknis (UPT), yakni varietas ayam hasil persilangan yang dirancang adaptif dengan iklim Kota Bandung. Ayam tersebut dikembangkan sebagai ayam petelur dan pedaging dengan sejumlah keunggulan.
Ayam hasil riset itu memiliki kemampuan adaptasi lingkungan yang baik, efisiensi pakan yang lebih tinggi, serta produktivitas telur dan daging yang meningkat dibanding ayam konvensional. Inovasi ini diproyeksikan mampu memperkuat ketersediaan protein hewani sekaligus mendukung ketahanan pangan di wilayah perkotaan.
“Ini bukti bahwa Bandung tidak hanya serius menjaga kesehatan hewan, tapi juga membangun ketahanan pangan. Ayam hasil riset ini akan dikembangkan untuk peternak kota dan program Buruan Sae,” katanya.
Dalam rangkaian Bangsawan Expo, DKPP juga membagikan berbagai bibit gratis sebagai bagian dari edukasi lingkungan. Bibit yang dibagikan meliputi ikan konsumsi dan ikan hias seperti nila dan mas, aneka bibit sayuran buah dan daun, hingga bibit ayam petelur dan pedaging.
Selain itu, warga juga mendapatkan kompos hasil olahan limbah organik dan kotoran hewan. Langkah ini diharapkan dapat mendorong praktik pertanian ramah lingkungan di pekarangan rumah serta memperkuat konsep ketahanan pangan berbasis keluarga.
Gin Gin menambahkan, program Bangsawan merupakan penguatan dari sistem layanan manajemen kesehatan hewan terintegrasi yang telah dikembangkan Pemerintah Kota Bandung melalui platform layanan terpadu. Ke depan, integrasi data sebaran hewan, status vaksinasi, hingga pelaporan masyarakat akan terus diperkuat agar pengendalian penyakit hewan dan zoonosis bisa dilakukan secara lebih cepat dan akurat.
“Intinya, ini gerakan bersama. Edukasi, kolaborasi, inovasi pangan dan layanan kesehatan hewan kami satukan agar Bandung semakin siap menjaga warganya dari risiko penyakit hingga ketersediaan pangan yang sehat,” tandasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....