Tedy Ajak Mahasiswa Jadi Pilar Edukasi Pengolahan Sampah Sederhana

  • 02 Okt 2026 03:27 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung – DPRD Jawa Barat memberikan sejumlah saran terhadap gerakan mahasiswa yang dilibatkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mengedukasi masyarakat mengenai pengelolaan sampah. Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat, Tedy Rusmawan, mengatakan mahasiswa yang turun ke masyarakat perlu dibekali materi edukasi yang jelas dan terstandarisasi

"Kita support dan juga kita dorong agar ada kejelasan terkait dengan materi yang disampaikan sehingga tepat, distandarisasi, dan juga tentunya didampingi oleh dosen-dosennya. Jadi, tidak hanya sekadar mahasiswa," ujar Tedy, Kamis 1 Oktober 2026

Menurutnya, gerakan tersebut juga dapat diintegrasikan dengan kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) maupun kuliah lapangan. Dengan demikian, edukasi mengenai pengelolaan sampah dapat dilakukan secara lebih luas dan berkelanjutan.

Tedy menilai kesadaran masyarakat untuk memilah sampah harus menjadi materi utama yang disampaikan mahasiswa. Setelah pemilahan dilakukan, masyarakat dapat diperkenalkan dengan berbagai metode pengolahan sesuai kondisi lingkungan masing-masing.

"Yang paling penting kan kesadarannya dulu, memilah sampahnya. Terkait dengan metode di lapangan kan itu ada banyak metode," katanya.

Ia menyebut sejumlah metode pengolahan sampah organik yang dapat dikenalkan kepada masyarakat, mulai dari Loseda, Loseda Dapur, hingga pengolahan menggunakan maggot. Namun, Tedy menyarankan mahasiswa lebih mengutamakan metode yang sederhana dan mudah diterapkan masyarakat.

"Kita dorong agar yang bisa diimplementasikan di masyarakat itu yang paling mudah dan paling sederhana saja," ucapnya.

Khusus di Kota Bandung, Tedy menilai metode Kang Empos dapat kembali diperkuat, terutama untuk kawasan padat penduduk. Metode tersebut menggunakan karung, ember, dan kompos untuk mengolah sampah organik.

"Di Kota Bandung sudah pernah disosialisasikan program Kang Empos, Karung, Ember, dan Kompos. Pernah di akhir 2024 itu menjadi program masif. Nah, itu sebetulnya cocok untuk di kawasan perkotaan," ujarnya.

Tedy berharap gerakan mahasiswa tidak berhenti pada penyampaian edukasi, tetapi dapat membantu masyarakat menerapkan pengelolaan sampah dari sumbernya. "Menurut saya, khususnya di kawasan kumuh dan padat di Bandung, metode yang paling memungkinkan itu Kang Empos yang sudah pernah dijalankan," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....