Jangan Sampai Kasus YTR Terulang, Siti Muntamah Ingatkan Pentingnya Kepedulian

  • 29 Jun 2026 12:09 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Kasus penyekapan dan penganiayaan yang menimpa Yuvita Tri Rezeki (YTR) dinilai menjadi pengingat bahwa kepedulian keluarga dan kontrol sosial di tengah masyarakat tidak boleh melemah. Dua aspek tersebut dinilai menjadi benteng utama untuk mencegah peristiwa serupa kembali terjadi.

Wakil Ketua Komisi V DPRD Jawa Barat, Siti Muntamah Oded, mengatakan kepedulian tidak cukup diwujudkan melalui komunikasi sesaat atau sekadar mengetahui kabar seseorang. Ia menilai perhatian harus diwujudkan melalui hubungan yang dekat dan kesediaan untuk memastikan kondisi anggota keluarga ketika muncul tanda-tanda yang tidak biasa.

"Yang pertama adalah awareness, peduli. Peduli itu adalah komunikasi lebih dalam, interaksi yang dalam, hubungan sejiwa dalam. Jadi kalau sebagian jiwanya hilang, harus kita cari," kata Siti ditemui dalam sebuah kegiatan di Kota Bandung, Minggu, 28 Juni 2026.

Ia menegaskan keluarga memiliki tanggung jawab yang tidak dapat dialihkan kepada siapa pun. Menurutnya, keberadaan wali bukan sekadar simbol dalam keluarga, melainkan bentuk tanggung jawab yang harus dijalankan ketika ada anggota keluarga yang membutuhkan perlindungan.

"Wali itu adalah laki-laki di situ, ayahnya. Kalau tidak saudara laki-lakinya, atau pamannya. Itu tanggung jawab penuh. Saya pikir nilai ini, harus diatur sedemikian rupa. Masyarakat tidak boleh lupa, keluarga tidak boleh lupa, karena kita ada ini dengan aturan-aturan yang sudah baku. Itu bukan dari manusia, tapi dari Tuhan. Pesan Tuhan harus dilakukan," ujarnya.

Siti juga menilai kasus tersebut menjadi pengingat bahwa kontrol sosial tidak boleh berhenti pada hubungan yang bersifat formal. Baginya, manusia hanya dapat hidup dengan baik ketika masih memiliki kepedulian terhadap orang-orang di sekitarnya.

Ia mengaku prihatin karena interaksi sosial yang dahulu menjadi kekuatan masyarakat perlahan mulai memudar. Kondisi itu, menurutnya, membuat kepekaan terhadap persoalan yang dialami orang lain ikut melemah.

"Yang kedua, kontrol sosial. Manusia itu adalah makhluk yang paling sosial di antara makhluk-makhluk yang ada. Dia ada karena orang lain ada. Ada saling," tegas Siti.

Dalam konteks Jawa Barat, Siti mengingatkan, budaya Sunda selama ini dibangun di atas nilai keramahan dan kepedulian antarsesama. Nilai tersebut, tidak akan hidup apabila masyarakat kehilangan kebiasaan untuk hadir, menyapa, dan memperhatikan orang-orang terdekatnya.

"Saya merasa bahwa ini (budaya) kita mulai redup, bahkan berkurang, sedikit keterkaitan dengan interaksi sosial. Padahal budaya Sunda itu ya, someah hade ka semah. Di mana mau someah kalau enggak ada orang lain? Bisa gila disebutnya, senyum-senyum sendiri," ucapnya.

Ia berharap kasus yang menimpa Yuvita Tri Rezeki menjadi momentum untuk menghidupkan kembali budaya saling menjaga di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Menurutnya, kehadiran dan kepedulian merupakan benteng pertama agar tragedi serupa tidak kembali terjadi.

"Someah, hade ka semah itu, Masya Allah. Saya pikir budaya ini sudah harus kita hidupkan lagi. Kata 'kehadiran' itu salah satunya adalah peduli. Peduli kepada siapa? Kepada keluarga yang ada di sekitar kita. Saya berharap kejadian ini jangan sampai terulang kembali," pungkas Siti.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....