Ini Alasan Industri Musik Anak Indonesia Terus Menurun
- 31 Agt 2026 03:57 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Industri musik anak nasional mengalami penurunan produksi lagu baru secara drastis dalam dua dekade terakhir, sehingga anak-anak semakin akrab dengan lagu bertema dewasa dan musik populer mancanegara.
Kondisi tersebut terungkap dalam pembahasan mengenai napak tilas perjalanan musik anak Indonesia selama lima dekade yang disiarkan kanal YouTube Radio Kaset pada 29 Juli 2026.
Menurut narasi Radio Kaset, meredupnya industri musik anak antara lain dipicu keengganan produsen memperjuangkan keberlanjutan produksi lagu yang secara khusus ditujukan bagi pendengar usia anak.
Perjalanan musik anak Indonesia telah dimulai sejak dekade 1950-an melalui karya-karya pencipta lagu Ibu Soed yang menghasilkan lebih dari 200 lagu anak dan kemudian diajarkan secara turun-temurun di lingkungan pendidikan.
"Lagu-lagu tersebut tidak hilang, tetapi hanya berpindah media dari kaset pita ke layar ponsel generasi berikutnya," kata narator Radio Kaset dalam tayangan tersebut.
| Baca juga: Perempuan Sunda Rawat Tradisi Lewat Kacapi |
Memasuki dekade 1970-an, perkembangan musik anak semakin terlihat melalui kehadiran penyanyi cilik rekaman, salah satunya Chicha Koeswoyo yang meluncurkan album perdana dan berhasil menembus pasar musik nasional.
Popularitas musik anak kemudian mencapai salah satu puncaknya pada dekade 1990-an melalui kemunculan sejumlah pencipta lagu yang melahirkan banyak penyanyi cilik dan karya populer di tengah masyarakat.
Salah satu tokoh penting dalam perkembangan musik anak era tersebut adalah Papa T Bob yang dikenal menghasilkan berbagai karya dan turut mengangkat sejumlah penyanyi cilik menjadi bintang musik nasional.
Album musik anak pada dekade 1990-an juga mampu mencatatkan penjualan hingga jutaan keping kaset, menunjukkan besarnya daya tarik pasar terhadap karya musik yang ditujukan khusus bagi anak-anak.
Perjalanan kejayaan tersebut turut ditandai album perdana Sherina Munaf yang dirilis pada akhir 1999 dan menjadi salah satu penanda penting masa transisi industri musik anak menuju era baru.
Memasuki dekade 2000-an, ruang siar televisi serta produksi media rekaman untuk musik anak mulai menyusut sehingga kesempatan bagi pencipta dan penyanyi cilik menghasilkan karya baru semakin terbatas.
Penurunan produksi tersebut kemudian berdampak terhadap ketersediaan lagu baru yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan perkembangan anak-anak di tengah perubahan pola konsumsi media.
Meski demikian, sejumlah lagu anak legendaris tetap bertahan dan digunakan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah dasar maupun lingkungan pendidikan anak usia dini.
Keberadaan lagu-lagu klasik tersebut menunjukkan bahwa karya musik anak memiliki nilai edukatif dan budaya yang dapat diwariskan lintas generasi, meskipun industri produksinya mengalami penurunan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....