Perempuan Sunda Rawat Tradisi Lewat Kacapi

  • 30 Agt 2026 21:55 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Seniwati Sunda sekaligus guru, Dede Kurniasi, terus mendobrak stigma terhadap perempuan yang memainkan kacapi sekaligus mengenalkan musik tradisional kepada generasi muda. Hal tersebut disampaikan Dede Kurniasi dalam program Obrolan Budaya Berjaringan Korwil 12 Bandung, Bogor, dan Cirebon yang ditayangkan melalui kanal YouTube RRI Bandung.

Dalam program yang dipandu Beni Heriansa tersebut, Dede menceritakan perjalanan dirinya menekuni seni karawitan Sunda hingga memilih kacapi sebagai ruang ekspresi sekaligus bagian penting dari kehidupannya.

Ketertarikan Dede terhadap kacapi tumbuh sejak kecil melalui lingkungan keluarga dan kebiasaan mendengarkan siaran radio yang menghadirkan kacapi suling serta dongeng tradisional Sunda.

Dede mengungkapkan, ayahnya juga memiliki kemampuan memainkan kacapi sehingga lingkungan keluarga menjadi pintu awal dirinya mengenal dan mencintai alat musik tradisional tersebut.

“Dari keluarga juga sudah dibiasakan. Dulu sebelum tidur selalu disetel kacapi suling, jadi pendengaran kita sudah terbiasa terngiang-ngiang,” ujar Dede Minggu 30 Agustus 2026.

Ketertarikan itu kemudian berkembang ketika Dede menempuh pendidikan di SMKI. Ia mendapatkan kesempatan mendalami teknik permainan kacapi secara lebih serius sebagai bagian dari pendidikan seni karawitan.

Pilihan Dede memainkan kacapi sebagai perempuan pada masa awal perjalanannya tidak selalu dipandang sebagai sesuatu yang lazim oleh masyarakat. Bahkan dianggap unik dan berbeda.

Namun, dukungan keluarga serta apresiasi lingkungan sekitar membuat Dede semakin percaya diri mempertahankan pilihannya untuk memainkan kacapi. Ia juga mengembangkan kemampuan dalam seni tradisional Sunda.

Menurut Dede, keputusannya memainkan kacapi juga berkaitan dengan karakter pribadinya. Ia ingin tampil berbeda dan menjadikan keunikan tersebut sebagai kekuatan dalam berkesenian.

“Kalau perempuan bernyanyi, perempuan sebagai vokalis itu sudah biasa. Saya berpikir, saya orangnya tomboy, jadi saya ingin sesuatu yang unik dan tidak pernah tersentuh perempuan saya dalami,” katanya.

Dalam perjalanannya, Dede kemudian memperdalam kacapi tembang Sunda Cianjuran ketika menempuh pendidikan di STSI. Dede berhadapan dengan pakem tradisi yang cukup ketat mengenai perempuan sebagai pemain kacapi.

Dede menjelaskan, terdapat sejumlah aturan tradisional dalam permainan kacapi. Termasuk sikap duduk dan teknik penjarian yang pada masa lalu sangat memperhatikan simbol serta filosofi tertentu.

Meski demikian, Dede berpandangan perkembangan zaman tidak harus menghilangkan nilai tradisi. Melainkan dapat memberikan ruang lebih luas bagi perempuan untuk berkesenian.

“Yang tidak boleh berubah itu cara kita memainkannya, adabnya tetap sama. Bedanya, saya yang memainkan, perempuan,” ujar Dede menegaskan pandangannya mengenai perubahan zaman dan tradisi.

Semangat mempertahankan tradisi tersebut kini tidak hanya dilakukan melalui panggung pertunjukan. Tetapi juga diterapkan Dede dalam aktivitasnya sebagai guru seni budaya di SMP Negeri 1 Kutawaringin, Kabupaten Bandung.

Di sekolah, Dede memperkenalkan kacapi kepada para siswa melalui pembelajaran praktik dan demonstrasi. Hal itu agar generasi muda tidak sekadar mengetahui seni tradisional dari penjelasan teori.

Dede mengaku prihatin ketika menemukan masih ada anak-anak yang belum mengetahui bahwa kacapi merupakan salah satu bagian dari kekayaan seni budaya masyarakat Sunda.

“Minimal diperkenalkan, ini kacapi, jumlah senarnya 20. Cara memainkannya tangan kanan disintreuk, tangan kiri ditoel,” tutur Dede mengenai cara sederhana mengenalkan kacapi kepada siswa.

Metode pembelajaran langsung tersebut mendapat respons positif dari sejumlah siswa yang kemudian menunjukkan ketertarikan untuk mempelajari musik, termasuk menggabungkan permainan alat musik modern dengan kacapi. Dede juga telah menciptakan lagu berjudul Karatagan SMP Negeri 1 Kutawaringin yang kemudian menjadi bagian dari identitas sekolah dan dikembangkan melalui kolaborasi dengan berbagai alat musik.

Menurutnya, kolaborasi antara musik tradisional dan instrumen modern dapat menjadi salah satu cara memperluas ruang kreativitas tanpa harus meninggalkan karakter dasar kesenian tradisional.

Pengalaman kolaborasi juga pernah dijalani Dede ketika masih menempuh pendidikan dan saat tampil di luar daerah. Termasuk memadukan kacapi dengan alat musik lain yang memiliki karakter tangga nada berbeda.

Dede menilai proses tersebut membutuhkan latihan dan penyesuaian, tetapi membuktikan bahwa musik tradisional dapat berdialog dengan berbagai bentuk musik apabila dimainkan dengan pemahaman yang tepat. Perkembangan perempuan muda yang kini semakin berani memainkan alat musik tradisional juga mendapat apresiasi dari Dede karena menunjukkan perubahan pandangan masyarakat terhadap peran perempuan dalam kesenian.

Ia melihat media sosial turut membuka ruang bagi perempuan dan anak-anak untuk memperlihatkan kemampuan memainkan kacapi sehingga kesenian tersebut memiliki peluang lebih besar dikenal generasi sekarang. “Sangat bersyukur dan sangat bangga. Ternyata sekarang banyak perempuan yang bisa main kacapi, bahkan dari SD sudah ada yang belajar,” katanya.

Dede berharap semakin banyak generasi muda, khususnya perempuan, berani mengembangkan kemampuan seni tradisional dan tidak menganggap kesenian warisan budaya sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman. Ia juga mendorong para pelajar seni agar tidak berhenti mempelajari kacapi hanya untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, tetapi melanjutkan kemampuan tersebut melalui kegiatan berkesenian di tengah masyarakat.

“Kalau kita sudah mencintai satu jenis alat musik, terutama kacapi, jangan merasa malu, jangan merasa rendah diri. Tetap semangat berjuang,” ucap Dede. Bagi Dede, tradisi memiliki peluang untuk kembali diminati masyarakat ketika kejenuhan terhadap kehidupan modern semakin berkembang dan masyarakat mulai mencari kembali akar budaya mereka.

Karena itu, pelestarian kacapi menurutnya tidak cukup dilakukan dengan mempertahankan bentuk kesenian. Namun juga membutuhkan generasi penerus yang berani mempelajari, memainkan, dan mengembangkannya.

Kiprah Dede Kurniasi menunjukkan bahwa perempuan dapat mengambil peran dalam menjaga keberlangsungan seni tradisional Sunda melalui panggung kesenian maupun pendidikan kepada generasi muda. Upaya tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui langkah sederhana, yakni mengenalkan kesenian kepada anak-anak dan memberikan ruang bagi mereka untuk mencoba secara langsung.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....