Sebanyak 101 Celempung Akan Bergema di Bandung

  • 25 Agt 2026 09:00 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Sebanyak 101 celempung akan dimainkan dalam satu panggung di Kota Bandung melalui festival “The Wonder of Waditra Celempung Sunda: Festival 101 Alat Musik Celempung”. Pertunjukan ini dirancang untuk membawa kembali bunyi waditra bambu tradisional Sunda ke ruang publik sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda dalam format yang lebih dekat dengan kehidupan budaya urban.

Festival akan berlangsung pada Kamis, 27 Agustus 2026, pukul 18.30–21.30 WIB di Gedung Amphiteater Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jalan Dr. Setiabudhi No. 229, Bandung. Program digagas oleh Ketua Jurusan Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan, ISBI Bandung, Mustika Iman Zakaria, S.Sn., M.Sn. sebagai bagian dari Program Layanan Produksi Bidang Kebudayaan, kategori Pendayagunaan Ruang Publik, dalam skema Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan 2026.

Celempung merupakan alat musik bambu tradisional Sunda yang dimainkan dengan cara dipukul. Di balik karakter bunyinya, celempung menyimpan hubungan yang kuat dengan pengetahuan ekologis, musikal, dan pandangan masyarakat Sunda tentang kedekatan manusia dengan alam.

Namun, di tengah perubahan gaya hidup dan dominasi budaya populer, instrumen ini semakin jarang hadir dalam keseharian generasi muda perkotaan.

Karena itu, festival tidak menempatkan celempung sebagai benda budaya yang sekadar dipamerkan. Celempung akan dibunyikan, dimainkan, dipelajari, dan dikembangkan melalui pendekatan pertunjukan yang komunikatif.

Puncak acara berupa permainan kolosal 101 celempung yang melibatkan musisi muda, sanggar seni, sekolah seni, dan komunitas budaya dari Jawa Barat.

Pertunjukan juga akan dikembangkan dalam format ethnic fusion.

Bunyi celempung dipertemukan dengan kendang, karinding, suling, gamelan, sape’, gitar elektrik, hingga instrumen digital. Perjumpaan tersebut menjadi cara untuk menunjukkan bahwa musik tradisi dapat berdialog dengan ekspresi musikal kontemporer tanpa kehilangan identitas dasarnya.

Selain pertunjukan, rangkaian kegiatan mencakup dialog budaya yang membahas masa depan waditra Sunda, pendidikan seni, industri kreatif, dan strategi pelestarian budaya. Program juga menyiapkan ruang edukasi melalui workshop pembuatan dan permainan celempung, serta dokumentasi dan publikasi digital agar pengalaman festival dapat menjangkau khalayak yang lebih luas.

Gedung Amphiteater UPI dipilih sebagai titik pertemuan publik yang dinilai mampu mempertemukan masyarakat, mahasiswa, komunitas kreatif, generasi muda, akademisi, dan pengunjung dari berbagai latar. Dalam rancangan program, area festival dibagi ke dalam fungsi penyambutan dan informasi, panggung utama, workshop celempung, media dan dokumentasi, serta dukungan kesehatan dan keamanan.

Sasaran festival tidak hanya penikmat seni tradisi. Pelajar, mahasiswa, komunitas seni, musisi muda, sanggar budaya, komunitas kreatif urban, wisatawan, perajin bambu, pelaku UMKM, akademisi, media, hingga pemerintah daerah ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem yang diharapkan ikut memperkuat keberlanjutan celempung.

Festival juga dirancang untuk mendorong kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari komunitas seni dan sanggar budaya Sunda, sekolah dan perguruan tinggi, media, organisasi pemuda, perajin bambu, pelaku UMKM, hingga institusi pemerintah dan pihak swasta yang memiliki perhatian terhadap kebudayaan dan keberlanjutan.

Lebih dari sekadar mengejar kemeriahan satu malam, “The Wonder of Waditra Celempung Sunda” membawa gagasan bahwa pelestarian budaya perlu hadir kembali di ruang hidup masyarakat. Pertunjukan 101 celempung menjadi pintu masuk untuk membangun apresiasi publik, memperluas pengalaman belajar budaya secara partisipatif, dan mempertemukan tradisi dengan kreativitas kontemporer.

Melalui format tersebut, festival diharapkan dapat menjadi model kegiatan budaya yang dapat dikembangkan kembali di ruang publik lain. Ketika celempung kembali terdengar di tengah kota, yang dihidupkan bukan hanya sebuah alat musik bambu, tetapi juga pengetahuan, ingatan budaya, jejaring komunitas, dan kemungkinan baru bagi warisan Sunda untuk terus tumbuh bersama generasi hari ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....