Festival Bermain Anak, Hidupkan Kembali Permainan Tradisional di Era Digital

  • 19 Agt 2026 13:48 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Permainan tradisional semakin jarang menjadi pilihan bermain anak di tengah penggunaan gawai yang semakin lekat dalam keseharian. Kondisi tersebut turut melatarbelakangi hadirnya Festival Bermain Anak 2026 yang membawa kembali beragam permainan tradisional Nusantara untuk dikenalkan kepada anak-anak.

Festival tersebut berlangsung pada 17-23 Agustus 2026 di Atrium Hejo 23 Paskal Shopping Center, Bandung. Kegiatan ini merupakan kolaborasi 23 Paskal Shopping Center dengan PlayPlus Indonesia, sekaligus pertama kalinya Festival Bermain Anak digelar di Bandung setelah rutin diselenggarakan di Jakarta sejak 2017.

Mengusung tema Nusantara “Menghidupkan Tradisi, Membangun Masa Depan”, festival ini menghadirkan permainan tradisional di berbagai daerah Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Panitia Festival Bermain Anak 2026, Sinta mengatakan, sejumlah permainan yang diperkenalkan diantaranya congklak, bekel, gasing bambu, cingciripit, hingga beberapa berasal dari daerah yang memiliki permainan khas dan belum banyak dikenali anak-anak.

“Untuk permainan tradisional yang kita bawa itu dari Sabang sampai Merauke, jadi seluruh permainan tradisional yang ada di Nusantara. Jadi dari setiap pulau yang ada di Indonesia”, ujar Sinta Selasa 18 Agustus 2026.

Menurut Sinta, panitia menghadirkan permainan yang berbeda setiap hari selama tujuh hari pelaksanaan festival. Jenis permainan juga terus ditambah ketika panitia menemukan permainan tradisional lain yang belum banyak diperkenalkan.

Selain mengenalkan keberagaman budaya, permainan tradisional juga menjadi ruang bagi anak untuk berinteraksi dengan orang lain. Sinta menyebut sejumlah permainan membutuhkan beberapa pemain sehingga dapat melatih komunikasi dan kerja sama.

“Beberapa itu melatih kerjasama mereka jadi contohnya kayak main lompat karet itu kan harus dimainkan sama beberapa orang terus kayak permainan cublak-cublak suam belum lagi permainan telepon kaleng yang membantu komunikasi gitu anak-anak saling berkomunikasi satu sama lain”, ucapnya.

Salah seorang pengunjung, Triani Adiana, mengaku mengetahui festival ini melalui Instagram. Ia datang bersama anaknya sekaligus untuk melihat keponakannya yang tampil dalam salah satu rangkaian kegiatan.

Setelah berada di lokasi, anak Triani yang berusia empat tahun tertarik mencoba permainan tradisional yang tersedia. Ia bahkan mencoba sekitar sepuluh permainan dan mengumpulkan stempel setelah menyelesaikan permainan tersebut.

Triani menilai kegiatan semacam ini penting karena anak-anak saat ini jarang memainkan permainan tradisional. Menurutnya, festival tersebut menjadi kesempatan bagi anak untuk mengenal permainan yang sebelumnya belum pernah mereka coba.

“Penting ya, karena kan anak-anak sekarang mainnya jarang yang kaya ga pernah kaya gini ya, jadi di sini juga ngenalin ke anak aku sih permainan-permainan ini, dan emang dia belum pernah tahu juga, dan di sini dia jadi tahu permainan-permainan lama, tadi baru nyobain permainannya semuanya”, ujarnya.

Penulis: Putri Cahyaningsih/Magang

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....