Grup Musik Bimbo, Sejarah dan Harmoni dari Bandung
- 30 Jun 2026 20:32 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung: Nama Bimbo identik dengan lagu-lagu religi yang menenangkan hati, seperti Tuhan, Sajadah Panjang, hingga Ada Anak Bertanya pada Bapaknya. Namun di balik citra tersebut, grup musik asal Bandung ini pernah dikenal sebagai penyampai kritik sosial yang berani melalui lirik-lirik puitis pada masa Orde Baru.
Dilansir dari kanal YouTube Radio Kaset yang tayang pada 3 Juli 2025, perjalanan Bimbo bermula di Bandung pada akhir 1960-an. Trio bersaudara Sam, Acil, dan Jaka membentuk Trio Bimbo, sebelum kemudian berganti nama menjadi Bimbo setelah bergabungnya Iin Parlina. Nama Bimbo sendiri merupakan akronim dari Bimbingan Orang Tua.
Karier mereka mulai menanjak setelah bergabung dengan label rekaman Remaco. Lagu-lagu seperti Melati dari Jayagiri dan Flamboyan sukses menarik perhatian masyarakat. Namun di balik lagu-lagu bertema cinta tersebut, Bimbo mulai menyisipkan kritik sosial melalui karya-karyanya.
Salah satu contohnya adalah lagu Tante Sun. Sepintas lagu itu terdengar ringan dan jenaka, tetapi di balik liriknya tersimpan sindiran terhadap gaya hidup kalangan elite dan sosialita yang dinilai jauh dari realitas masyarakat.
Memasuki era Orde Baru, kritik Bimbo semakin tajam. Mereka menghadirkan lagu-lagu seperti Jual Beli, Hitam Putih, Surat untuk Presiden, serta Balada Tuan dan Nyonya yang mengangkat isu ketimpangan sosial, praktik korupsi, kerusakan lingkungan, hingga penyalahgunaan kekuasaan.
Keberanian tersebut membuat Bimbo beberapa kali dipanggil aparat untuk dimintai penjelasan mengenai makna lirik yang mereka ciptakan. Bahkan sejumlah lagunya sempat tidak mendapat ruang di Radio Republik Indonesia (RRI) karena dianggap sensitif terhadap situasi politik saat itu.
Perjalanan musik Bimbo kemudian memasuki babak baru ketika bertemu sastrawan Taufiq Ismail. Melalui puisinya yang berjudul Tuhan, Bimbo menemukan warna musikal baru yang lebih spiritual tanpa meninggalkan pesan-pesan kemanusiaan.
Lagu Tuhan menjadi titik balik yang mengantarkan Bimbo dikenal sebagai kelompok musik religi. Setelah itu lahir berbagai karya yang memadukan nilai spiritual, sastra, dan kritik sosial secara lebih halus, seperti Sajadah Panjang dan Ada Anak Bertanya pada Bapaknya.
Perubahan tersebut bukan berarti Bimbo meninggalkan idealismenya. Kritik yang sebelumnya diarahkan kepada persoalan sosial kemudian berkembang menjadi ajakan untuk melakukan refleksi diri melalui nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan.
Hingga kini, Bimbo tetap dikenang sebagai salah satu kelompok musik paling berpengaruh dalam sejarah musik Indonesia. Melalui perpaduan balada, sastra, kritik sosial, dan musik religi, karya-karya mereka terus melintasi zaman serta menjadi bagian penting dari perjalanan musik nasional.
Lebih dari sekadar grup musik, Bimbo membuktikan bahwa lagu dapat menjadi media untuk menyampaikan cinta, kritik, sekaligus harapan. Di tengah perubahan zaman, warisan musikal mereka tetap relevan sebagai pengingat bahwa karya seni mampu menjadi suara masyarakat dengan cara yang santun namun bermakna.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....