Hal yang Sering Dilakukan pada Era Keemasan Radio di Indonesia
- 30 Jun 2026 20:19 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung: Jauh sebelum masyarakat mengenal media sosial, aplikasi pesan instan, maupun telepon genggam, radio menjadi media utama yang menghubungkan masyarakat. Salah satu program yang paling dikenang adalah Titip Salam, sebuah ruang interaktif yang memungkinkan pendengar menyampaikan pesan, ucapan, hingga ungkapan perasaan kepada orang lain melalui siaran radio.
Dilansir dari kanal YouTube Radio Kaset yang tayang pada 6 Mei 2026, program titip salam bukan sekadar sarana meminta lagu favorit. Program tersebut menjadi salah satu bentuk komunikasi publik pertama yang memberi kesempatan masyarakat biasa menyampaikan pesan kepada ribuan pendengar secara bersamaan.
Pada era 1980 hingga 1990-an, radio hadir hampir di setiap rumah di Indonesia. Selain menjadi sumber informasi dan hiburan, radio juga menjadi media yang mampu membangun kedekatan antara penyiar dan pendengarnya melalui berbagai program interaktif.
Pendengar yang ingin mengirim salam harus datang langsung ke studio radio, menelepon, mengirim kartu pos, atau menitipkan pesan melalui kerabat yang tinggal di sekitar stasiun radio. Seluruh proses dilakukan tanpa teknologi digital, sehingga setiap pesan yang berhasil dibacakan penyiar menjadi momen yang sangat dinantikan.
Bagi kalangan remaja saat itu, titip salam bahkan menjadi salah satu cara paling populer untuk mendekati seseorang. Tidak sedikit yang menyampaikan rasa suka melalui lagu pilihan, pesan singkat, hingga kode-kode tertentu yang hanya dipahami oleh penerimanya.
Ketika nama seseorang disebut penyiar di udara, seluruh pendengar yang mengikuti program tersebut ikut mendengarnya. Pengalaman itu menjadi kebanggaan tersendiri karena pada masa tersebut belum tersedia media sosial sebagai ruang berekspresi.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa radio telah menghadirkan konsep komunikasi interaktif jauh sebelum lahirnya platform digital modern. Penyiar berperan layaknya kreator konten masa kini, sementara pendengar membentuk komunitas melalui kesamaan minat terhadap program-program tertentu.
Tidak sedikit komunitas pendengar radio yang kemudian berkembang menjadi pertemuan langsung melalui kegiatan luar studio (off air), sehingga hubungan yang awalnya terjalin melalui gelombang radio berlanjut menjadi pertemanan di dunia nyata.
Selain menjadi sarana hiburan, radio juga memiliki fungsi sosial yang sangat penting. Di sejumlah daerah yang belum terjangkau layanan telepon, masyarakat memanfaatkan program titip salam untuk menyampaikan kabar kepada keluarga yang berada di daerah lain.
Bahkan saat terjadi bencana maupun situasi darurat, radio menjadi media tercepat untuk menyampaikan informasi sekaligus memastikan kondisi anggota keluarga melalui pesan yang dibacakan penyiar. Dalam kondisi tersebut, titip salam berubah fungsi menjadi media komunikasi kemanusiaan.
Sejarah juga mencatat perkembangan radio di Indonesia didukung oleh berbagai stasiun legendaris yang membangun budaya mendengarkan radio di tengah masyarakat. Program-program interaktif yang mereka hadirkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari jutaan pendengar selama beberapa dekade.
Meski kini masyarakat lebih banyak menggunakan aplikasi percakapan dan media sosial, nilai yang dibangun radio tetap relevan. Teknologi boleh berubah, tetapi kebutuhan manusia untuk saling terhubung, berbagi cerita, dan memperoleh perhatian tidak pernah berubah.
Program titip salam menjadi bukti bahwa jauh sebelum era digital, radio telah berhasil menghadirkan ruang komunikasi yang hangat, inklusif, dan mampu mempererat hubungan antarmasyarakat. Hingga kini, kenangan menunggu nama disebut penyiar masih menjadi nostalgia yang membekas bagi generasi yang tumbuh bersama kejayaan radio Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....