Empat Dekade Bakso Tahu Mang Olih Balaikota Bandung
- 18 Okt 2025 19:55 WIB
- Bandung
KBRN, Bandung; Di antara hiruk pikuk aktivitas pegawai pemerintah, langkah cepat pewarta, dan lalu lalang tamu di lingkungan Balai Kota Bandung, ada satu aroma yang begitu akrab bagi siapa pun yang pernah singgah di sana: bakso tahu Mang Olih.
Setiap siang, dari arah halaman belakang, tercium wangi kuah gurih berpadu sambal kacang yang khas. Di sanalah Mang Olih, pria berusia 60 tahun asal Garut. Senyumnya selalu menyapa ramah setiap pelanggan yang datang entah pegawai pemerintah, wartawan, atau pengunjung yang kebetulan lewat.
Dalam hitungan waktu yang panjang itu, ia bukan sekadar pedagang, tetapi sudah menjadi bagian dari keseharian tempat tersebut. Banyak pegawai dan pewarta menyebutnya sebagai “penjaga cita rasa nostalgia” Balai Kota.
“Sudah 40 tahun saya di sini. Dulu mah masih sepi, belum kayak sekarang. Tapi alhamdulillah, rezeki selalu ada,” ujar Mang Olih sambil menata mangkuk pesanan, Sabtu (18/10/2025).
Perjalanan Mang Olih dimulai dari kampung halamannya di Garut. Ia merantau ke Bandung pada awal tahun 1980-an dengan niat sederhana mencari penghidupan yang lebih baik. Dengan kemampuan memasak yang diwariskan keluarganya, ia memilih berjualan bakso tahu, makanan yang ia kenal sejak kecil.
Awalnya, ia hanya membawa beberapa porsi dalam satu hari. Namun, karena rasa gurih dan tekstur kenyal bakso tahunya yang khas, pembeli mulai memesan. Dari mulut ke mulut, nama “Bakso Tahu Mang Olih” pun dikenal luas di lingkungan perkantoran pemerintahan kota Bandung.8
“Sekarang mah pelanggan udah hafal, kadang belum datang aja udah ada yang nelepon. Pesannya duluan, tinggal ambil,” katanya sambil tersenyum
Baca juga : Kisah Ojol Sulaeman, Di Atas Motor dan Harapan
Bagi Mang Olih, kepercayaan pelanggan adalah hal utama. Ia selalu menyiapkan bahan sendiri dari rumah, memastikan kebersihan dan cita rasa tetap terjaga. Setiap hari ia membuat adonan bakso dan tahu dengan takaran yang sama, tanpa mengubah resep aslinya sejak puluhan tahun lalu.
“Bikinnya sendiri, di rumah. Dari dagingnya, tahunya, sampai bumbunya. Yang penting bersih dan rasanya tetap sama. Orang udah kenal rasanya, jadi nggak boleh berubah,” ucapnya.
Satu porsi bakso tahu buatannya dijual dengan harga Rp10.000 hingga Rp15.000. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan sekitar 50 porsi, dengan pendapatan berkisar antara Rp200.000 hingga Rp300.000.
Bagi sebagian orang, angka itu mungkin tidak besar. Tapi bagi Mang Olih, itu sudah cukup untuk menghidupi keluarga dan tetap bisa berbuat jujur dalam mencari rezeki.
Di balik gerobaknya yang sederhana, tersimpan kisah tentang ketekunan, kesabaran, dan konsistensi. Selama empat dekade, Mang Olih telah menjadi saksi bisu berbagai perubahan di Balai Kota Bandung dari pergantian wali kota, hingga perubahan wajah kota.
Namun, ada satu hal yang tak pernah berubah, rasa bakso tahu yang selalu sama dan senyum hangat sang penjual. “Kadang ada pegawai yang dulu masih magang, sekarang udah jadi pejabat. Tapi masih suka ke sini, katanya kangen bakso tahu saya,” katanya.
Ia adalah bagian dari wajah kota simbol ketekunan dan kesetiaan pada pekerjaan. Di tengah gemerlap modernisasi dan kuliner cepat saji, kehadirannya mengingatkan kita bahwa kejujuran dan konsistensi adalah resep utama kesuksesan yang sesungguhnya.
“Selama masih kuat, saya terus jualan. Soalnya ini bukan cuma soal uang, tapi udah jadi bagian hidup,” tandasnya.
Bagi warga Balai Kota Bandung, bakso tahu Mang Olih bukan sekadar makanan, melainkan kenangan yang hidup tentang rasa yang tak berubah, dan tentang seorang lelaki sederhana yang setia menjaga cita rasa Bandung dari masa ke masa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....