Derap Kaki Kuda yang Tersisa di Kota Kembang
- 05 Okt 2025 10:59 WIB
- Bandung
KBRN, Bandung: Di tengah riuhnya Bandung, di antara gedung tinggi dan jalan beraspal, masih terdengar suara tak… tok… tak… tok… derap kuda. Mereka berdiri di sepanjang jalan Cisangkuy Kota Bandung, menunggu anak-anak kecil yang ingin menunggangi, atau keluarga yang sekedar ingin bernostalgia.
Salah satunya milik Mang Ujang (52), lelaki kurus yang sudah dua dekade menggantungkan hidup dari kuda sewaan. Kudanya ada dua: si Bintang yang gagah berwarna cokelat dan sii Cempluk yang lebih kecil, biasa ditunggangi anak-anak.
“Hari ramai paling Sabtu Minggu. Kalau dapat lima orang naik, alhamdulillah. Kalau sepi, ya kuda tetap harus makan. Rumput, obat, sama perawatan lebih mahal dari hasil sewa,” katanya sambil mengelus leher si Bintang yang napasnya terengah di bawah terik matahari.
Upah dari sewa kuda tidak besar. Sekali naik dipatok Rp30–50 ribu, tapi seringkali orang menawar setengah harga.
“Lucunya, orang bisa bayar kopi ratusan ribu, tapi untuk hiburan naik kuda suka nawar Rp15 ribu. Saya nggak bisa marah, takut kehilangan rejeki,” ujar Mang Ujang, tersenyum pahit.
Baca juga : Buku yang Ditinggalkan di Palasari Bandung
Di balik itu, kudanya juga menanggung lelah. Berdiri berjam-jam di aspal panas, kadang dipaksa berjalan meski kaki mulai pincang.
Pernah suatu kali, si Cempluk jatuh karena kelelahan, dan justru dimarahi pengunjung yang merasa kecewa. “Padahal, kuda juga makhluk hidup, bisa sakit, bisa capek,” ucap Mang Ujang lirih.
Di rumah kontrakan sederhana di kawasan Kiaracondong, Mang Ujang tinggal bersama istri dan anak bungsu, Nisa (10 tahun). Mang Ujang bercerita, putrinya Nisa sering membantu memberi minum kuda, sambil bercita-cita jadi dokter hewan.
“ Biar bisa rawat Bintang sama Cempluk". Kata Mang Ujang, menirukan ucapan anaknya.
Mata Mang Ujang berkaca-kaca mendengarnya. Sebab ia tahu, penghasilan pas-pasan dari kuda sewaan sulit menjamin masa depan.
“Saya cuma ingin anak saya nanti nggak hidup dari lelahnya hewan. Biar sekolah setinggi mungkin, jangan kayak bapaknya,” katanya.(Soleman Yusuf)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....