Buku yang Ditinggalkan di Palasari Bandung

  • 04 Okt 2025 22:51 WIB
  •  Bandung

KBRN,Bandung: Di Jalan Palasari, Malabar, Kota Bandung, deretan kios buku masih berdiri. Plang tua, cat yang memudar, rak-rak kayu berdebu.

Di sinilah dulu orang Bandung mencari ilmu, berburu buku bekas, sampai menawar dengan semangat. Tapi hari ini, suasananya jauh berbeda.

Bu Irma, pemilik kios yang sudah 5 tahun berjualan di Palasari, duduk termenung di balik tumpukan buku. Tangannya mengusap sampul lusuh sebuah novel karya Ken Folet edisi lama yang berjudul "The Pilars“.

" Dulu, buku ini rebutan. Sekarang? Anak muda lebih pilih gawai. Cari informasi tinggal klik, nggak perlu buka halaman,” katanya lirih, Sabtu (4/10/2025)

Buku-buku bekas itu, yang dulu jadi harta, kini seperti benda asing. Hanya segelintir mahasiswa atau kolektor tua yang masih datang. Sementara rak-rak penuh novel klasik, diktat kuliah, sampai majalah lawas, menunggu disentuh.

Baca juga : Motor Tua Hadirkan Manfaat Ekonomi Hingga Nilai Koleksi

Penghasilan pun kian merosot. “Tahun 90-an, sehari bisa jual 20–30 buku. Sekarang? Kadang cuma satu, kadang nggak ada sama sekali,” ujar bu Irma. Padahal, dari hasil jual buku ia membesarkan dua anaknya yang kuliah semester 3 dan SMA.

Palasari, yang dulu dijuluki surga buku bekas Bandung, kini pelan-pelan kehilangan pembelinya. Jalan yang dulu ramai mahasiswa kini lebih sering jadi parkiran motor.

Aroma kertas tua tergantikan oleh bau asap knalpot. Bu Irma sadar, zaman sudah berubah. Ia tak marah, hanya sedih.

“Buku-buku ini seperti ditinggalkan. Padahal di sini ada ilmu, ada sejarah, ada cerita manusia. Sayangnya, orang lebih sibuk dengan layar kecil di tangannya,” ucapnya sambil menatap kios yang kian sepi.

Baca juga : Kopi Simbol Keakraban Dalam Pertemanan

Saya membeli novel tua "Si Bongkok" karya Parkitri terbitan tahun 1981. Sembari membayar saya bertanya,

" Koq, buku buku ini dibiarkan, gak disimpan rapih ? Gak takut diambil orang?. Bu Irma tersenyum sambil menjawab. " Ahh.. gak apa, kalau ada yang mau ambil, berarti dia mau baca, kalau dia baca , berarti dia mau pintar. Buat saya itu lebih berharga dari pada uangnya," ucapnya. Dan buku lama seharga 15 ribu rupiah itu pun kini menjadi milik saya. (Soleman Yusuf)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....