Papan Tulis dan Janji yang Belum Tuntas

  • 02 Okt 2025 14:38 WIB
  •  Bandung

KBRN, Bandung: Pagi itu, kabut tipis masih menggantung di pinggiran Bandung. Di sebuah sekolah dasar negeri, seorang perempuan berusia 24 tahun, Bu Windi, sudah berdiri di depan kelas.

Tangannya cekatan menulis deretan angka di papan tulis. “Anak-anak, siapa yang bisa jawab soal nomor dua?” tanyanya, sambil melempar senyum.

Sejak 3 tahun lalu, Windi menjadi guru honorer di sekolah ini. Mengajar untuk kelas IV.

Setiap hari ia berangkat dari rumah di daerah Ujungberung dengan naik angkot, membawa tas kecil berisi spidol, dan buku catatan. Gajinya? Diawal mulai ia bekerja  tak lebih dari  Rp.500 ribu per bulan.

Jumlah yang  tak cukup untuk membayar berbagai kebutuhan hidup. Seiring berjalan waktu gajinya mulai berangsur -angsur naik.

Lika-liku di kelas bukanlah penghalang, justru di sanalah letak kenikmatan yang sesungguhnya. Ketika melihat wajah-wajah polos itu memancarkan rasa ingin tahu.

 “Saya merasa seperti seorang penjelajah yang memegang peta menuju harta karun,”ucap Windi tersenyum. Perjalanan menjadi seorang guru, membuat ia malah semakin mencintai profesinya. 


Baca juga: Dari Arena ke Jalanan, Perjuangan Wulung Sang Pedagang Keliling


Bertemu dengan murid-murid di sekolah  membuat beban hidup yang terkadang menghampiri,  seolah menguap. WIndi tetap menjadi sosok yang sabar, penuh semangat, dan selalu punya cara sederhana membuat anak-anaknya paham.

“Saya ingin anak-anak sukses dan dapat menggapai impian mereka,” ucapnya pelan saat ditanya apa yang membuatnya bertahan.

Data dari Dinas Pendidikan Jawa Barat mencatat, lebih dari 50 ribu guru honorer diberbagai jenjang pendidikan masih mengajar dengan kondisi serupa, yakni gaji minim, tanpa kepastian status.

Mereka menjadi tulang punggung pendidikan, tapi hidup dalam ketidakpastian. Sore itu, setelah bel pulang berbunyi, kelas kembali sepi.

Windi menatap ruang kelas kosong, kursi-kursi kecil yang tadi dipenuhi riuh tawa muridnya. “Selama mereka masih membutuhkan saya, saya akan tetap mengajar. Walau mungkin, negara belum sepenuhnya menoleh pada kami,” katanya, sambil merapikan spidol terakhirnya.

Di balik papan tulis sederhana itu, ada janji yang belum tuntas, kesejahteraan bagi para guru honorer, yang tetap setia menjaga cahaya pendidikan di tengah keterbatasan.


Penulis; Soleman Yusuf

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....