Dari Arena ke Jalanan, Perjuangan Wulung Sang Pedagang Keliling

  • 01 Okt 2025 17:01 WIB
  •  Bandung

KBRN, Cimahi: Di sudut tenang Kota Cimahi, di sebuah rumah kecil yang nyaris tersembunyi di pojokan, hidup seorang pria paruh baya yang tiap paginya menyusuri jalanan kota dengan langkah pelan dan tubuh yang tak lagi utuh. Namanya Pak Wulung.

Warga sekitar mungkin sudah hafal sosoknya: tubuh ringkih, jalan terseret, tangan kanan menggenggam kantong plastik lusuh berisi dagangan sederhana  pisau cukur jenggot, kanebo, dan korek api. Ia bukan pengemis. Ia bukan pula pengamen. Ia adalah pedagang keliling yang, meski digerogoti sakit dan usia, tetap memilih berjuang.

Pukul tujuh pagi, Pak Wulung mulai melangkah keluar rumah. Jalanan Cimahi yang mulai ramai menjadi saksi bisu dari perjuangan hariannya. Ia berjalan tertatih menuju area Pemkot, taman-taman kota, dan tempat orang berkumpul. Dengan suara yang nyaris tak terdengar karena efek stroke, ia menawarkan dagangannya:

“Pisau cukur dua lima ribu... Kanebo sepuluh ribu... Korek tiga lima ribu...” teriak pak wulung.

Tak jarang, suaranya terbenam dalam bising kendaraan dan percakapan orang. Namun ia tetap mengucapkannya, berulang-ulang, sepanjang pagi hingga matahari hampir di atas kepala.

Dulu Pelatih, Kini Pedagang

Sedikit yang tahu, bahwa pria renta yang kini menjual barang kecil itu dulu adalah pelatih sepak bola di bawah naungan PSSI. Lapangan hijau, peluit, dan strategi permainan dulu adalah dunianya. Ia berdiri gagah di pinggir lapangan, membina generasi muda, memupuk mimpi sepak bola Indonesia.

Namun semua berubah drastis. Sebuah kecelakaan menimpanya, lalu disusul dengan serangan stroke yang merenggut banyak hal  kesehatan, pekerjaan, kemampuan berbicara, bahkan sebagian kendali atas tubuhnya. Ia harus meninggalkan dunia olahraga yang dicintainya, dan memulai hidup baru dari titik nol.

“Saya dulu pelatih sepak bola PSSI, namun karena jatuh sakit, jadi saya gak bisa lagi melatih sepak bola, sekarang saya hanya bisa jualan korek dan pisau cukur saja yang gampang,” katanya kepada RRI, Rabu (1/10/2025).

Dengan tubuh setengah lumpuh dan pengucapan yang terbata, ia menolak untuk diam. Ia menolak untuk menyerah. Ia mulai berdagang keliling, membeli barang dari grosir di daerah Cibabat, lalu menjajakannya sendiri, dari satu trotoar ke trotoar lain.

“Kadang cuma laku lumayanlah.  Dapat  20 ribu, kadang 40ribu. Buat makan aja,” ucapnya lirih.

20 puluh ribu rupiah. Jumlah yang bahkan tak cukup untuk satu porsi makan di restoran cepat saji, tapi bagi Pak Wulung, itu adalah harga dari keteguhan dan keringat yang ia bayar tiap harinya. 

Ia tak pernah berharap lebih. Tak ada keinginan menumpuk kekayaan. Cukup bisa membawa pulang nasi untuk keluarganya hari itu saja, sudah syukur luar biasa.

Tak pernah sekali pun ia mengulurkan tangan meminta belas kasihan. Tak pernah pula ia mengeluh soal nasib. Ia berdiri dengan martabat, berjualan dengan jujur, dan menjalani hidup seadanya tapi sepenuh hati.

Di tengah keramaian Cimahi, di sela orang-orang yang lalu-lalang mengejar rutinitas, Pak Wulung hadir sebagai potret manusia yang paling tabah. Ia mungkin bukan siapa-siapa di mata dunia, tapi perjuangannya layak dikenang.

Ketika sebagian dari kita sibuk mengejar target bulanan, impian besar, atau keluhan soal hari Senin, Pak Wulung hanya berharap satu hal sederhana: pulang dengan membawa makan untuk keluarganya.

Pak Wulung adalah cermin dari banyak orang di negeri ini yang luput dari sorotan, tapi menyimpan kisah yang luar biasa. Mereka tak masuk berita, tak trending di media sosial, tapi mereka hidup dengan keberanian yang tak semua orang punya.

Empat tahun sudah Pak Wulung berkeliling kota, dengan langkah pelan yang selalu terasa berat. Empat tahun ia bertahan, dengan kondisi tubuh yang melemah, tapi semangat yang justru semakin menguat.

Ia menyapa orang-orang yang kadang menolak, menunduk, atau sekadar pura-pura tidak melihat. Tapi ia tetap berdiri. Karena bagi Pak Wulung, menyerah bukan pilihan.

Sosok Pak Wulung, adalah kisah nyata tentang manusia yang menolak menyerah, meski dunia seakan memberi seribu alasan untuk berhenti.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....