Kerasnya Perjuangan Sopir Angkot untuk Sekedar Bertahan Hidup

  • 29 Sep 2025 12:16 WIB
  •  Bandung

KBRN, Bandung: Suara mesin tua meraung pelan di terminal Leuwi Panjang, Kota Bandung. Jam masih menunjukkan pukul Lima pagi, ketika Aep menyalakan angkot hijau tuanya jurusan Soreang.

Ia menarik napas panjang sebelum memutar kunci kontak. Hari yang panjang baru saja dimulai.

Hampir 20 tahun lalu, Aep menggantungkan hidup dari setir angkot. Dulu trayek ini ramai penumpang, dari mulai karyawan pabrik, pelajar hingga pedagang.

Sekarang, sejak ojek daring dan transportasi aplikasi menjamur, jumlah penumpang turun drastis.

“Kalau lagi sepi, bawa mobil rasanya rugi. Tapi mau kerja apa lagi?” ujar Aep kepada RRI, Senin (29/9/2025).

Setiap hari Aep harus menyetorkan 80 ribu rupiah kepada pemilik kendaraan dari ongkos penumpang yang rata-rata hanya 5.000 sampai 15.000. Ia juga harus mengeluarkan uang untuk membayar bensin untuk mobil tuanya.

Sering kali setelah seharian menempuh tiga kali bolak-balik, uang yang dibawa pulang tak sampai seratus ribu rupiah. Ada hari-hari ketika ia malah nombok karena penumpang terlalu sedikit.

Baca juga : Keutamaan Dzikir dalam Kehidupan Sehari-hari

Data Dinas Perhubungan Kota Bandung menunjukkan, jumlah angkot aktif turun hampir 38,5 persen dalam lima tahun terakhir. Banyak sopir memilih berhenti karena tidak sanggup lagi menutup biaya setoran.

Pemerintah kota sebenarnya tengah menyiapkan program “Angkot Pintar”. Supir angkot pintar tidak lagi setor harian melainkan akan direkrut sebagai pegawai Pemkot Bandung dengan gaji. Namun program ini masih dalam tahap uji coba.

Di rumahnya di kawasan Kopo, Aep tinggal bersama istri dan dua anak yang masih sekolah. Mereka menambal kekurangan penghasilan dengan usaha warung kecil di depan rumah.

“Anak-anak butuh biaya sekolah. Saya tetap narik angkot karena belum ada pilihan lain,” katanya sambil tersenyum tipis.

Meski kota berubah dan transportasi daring terus merebut penumpang, Aep tetap setia menyetir. Baginya, angkot bukan sekadar mata pencaharian, tapi juga bagian dari denyut kehidupan Bandung.

“Selama masih ada yang naik, saya akan terus jalan,” ucapnya sebelum menginjak pedal gas, meninggalkan terminal pagi itu. (Soleman Yusuf)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....