OJK Jabar Pastikan Sektor Jasa Keuangan Tetap Kokoh di Tengah Efek Global

  • 02 Sep 2026 20:16 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID,Bandung - Sektor Jasa Keuangan (SJK) di Jawa Barat hingga Juni 2026 mencatatkan kinerja yang kokoh dan tetap tangguh di tengah tingginya dinamika perekonomian global maupun nasional. Stabilitas sektor keuangan daerah ini terjaga positif berkat dorongan pertumbuhan fungsi intermediasi perbankan serta pengelolaan profil risiko yang terukur.

Kepala OJK Provinsi Jawa Barat, Darwisman, menyampaikan bahwa kondisi tersebut tecermin dari pertumbuhan indikator utama perbankan yang terus meningkat secara tahunan (year-on-year/yoy). Hingga pertengahan tahun ini, total aset perbankan di Jawa Barat tumbuh 5,67 persen, Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 8,23 persen, dan penyaluran kredit melesat hingga 8,58 persen.

"Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa tingkat kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan dan jasa keuangan di Jawa Barat tetap tinggi. Dari sisi kualitas, rasio Non-Performing Loan (NPL) berada di level aman 3,42 persen, sementara rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) mencapai 145,33 persen," ujar Darwisman dalam keterangan tertulis yang diterima RRI, Rabu 2 September 2026.

Meskipun laju penyaluran kredit sebesar 8,58 persen (mencapai Rp1.120 triliun berdasarkan lokasi proyek) masih berada di bawah rerata nasional sebesar 12,48 persen, Jawa Barat membuktikan posisinya sebagai penopang utama ekonomi nasional. Tatar Pasundan menempati posisi kedua terbesar penyalur kredit secara nasional setelah DKI Jakarta, dengan kontribusi mencapai 12,10 persen.

Mengenai alokasi pembiayaan, kredit paling dominan diserap oleh sektor rumah tangga yang menyentuh angka Rp460,13 triliun atau tumbuh 8,50 persen (yoy). Sebaliknya, penyesuaian terjadi pada sektor konstruksi yang mengalami perlambatan pembiayaan sebesar Rp739 miliar akibat respons perbankan terhadap peningkatan risiko kredit di sektor tersebut.

Di sisi lain, perbaikan kualitas kredit terjadi signifikan pada sejumlah sektor strategis. Sektor industri pengolahan mencatatkan rasio NPL membaik menjadi 2,49 persen, sektor real estate menekan NPL hingga 0,69 persen, dan sektor pengangkutan serta pergudangan turut menjaga tingkat risiko tetap rendah di angka 0,77 persen.

Melihat dinamika tersebut, OJK Jawa Barat terus mengawal perbankan agar tidak ragu memperluas alokasi dana ke sektor-sektor produktif yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang.

"Kami terus mendorong industri perbankan untuk memprioritaskan penyaluran pembiayaan pada sektor produktif yang prospektif dengan mitigasi risiko yang matang. Langkah ini krusial untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Jawa Barat secara berkelanjutan," tegas Darwisman.

Secara kelembagaan, Bank Umum masih memegang porsi terbesar dalam peta perbankan Jawa Barat dengan menguasai 96,94 persen aset (Rp1.049 triliun), 97,17 persen DPK (Rp749 triliun), dan 97,79 persen kredit (Rp1.096 triliun). Adapun kontribusi BPR dan BPRS berada pada kisaran 2 hingga 3 persen dalam tren dua tahun terakhir.

Sementara dari model usaha, meski bank konvensional memimpin pasar dengan pangsa aset 89,95 persen, kinerja perbankan syariah di Jawa Barat menunjukkan sinyal positif. Perbankan syariah berhasil mencetak pertumbuhan di atas rata-rata nasional, dengan menguasai pangsa aset 10,05 persen, DPK 10,97 persen, dan penyaluran kredit 11,11 persen.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....