Kredit Perbankan Jawa Barat Membaik, Ini Saluran Penyumbang Terbesarnya
- 04 Agt 2026 15:03 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID,Bandung - Sektor ekonomi di Jawa Barat terus menunjukkan geliat positif hingga Juni 2026. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyaluran kredit perbankan berdasarkan lokasi proyek non-bank mendapati pertumbuhan pesat, terutama dikontribusikan oleh Sektor Industri Pengolahan serta Sektor Rumah Tangga.
Sektor Rumah Tangga masih menjadi penyalur kredit terbesar di Jawa Barat dengan nominal mencapai Rp460,13 triliun atau tumbuh 8,50 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Capaian ini mendominasi pangsa pasar (share) kredit sebesar 41,98 persen dari total penyaluran kredit di Tatar Parahyangan.
Sementara itu, pertumbuhan tertinggi dicatatkan oleh Sektor Industri Pengolahan yang melonjak pesat 21,81 persen YoY menjadi Rp195,83 triliun (posisi Juni 2025: Rp160,76 triliun). Sektor ini memegang pangsa pasar sebesar 17,87 persen.
Kepala OJK Provinsi Jawa Barat, Darwisman, menyampaikan bahwa tingginya lonjakan kredit pada sektor manufaktur dan industri pengolahan mengindikasikan semakin kuatnya aktivitas produksi serta ekspansi bisnis dunia usaha di Jawa Barat.
"Sektor Industri Pengolahan mencatatkan pertumbuhan kredit yang luar biasa signifikan melebihi 21 persen. Menariknya, pertumbuhan pesat ini diimbangi dengan risiko kredit yang sangat terjaga, di mana kualitas NPL sektor ini membaik sebesar 1,76 persen menjadi 2,49 persen," ujar Darwisman, Selasa, 4 Agustus 2026.
Selain Industri Pengolahan, pertumbuhan kuat dengan risiko kredit yang rendah juga dialami oleh Sektor Real Estat yang tumbuh 13,89 persen YoY menjadi Rp42,96 triliun dengan NPL sangat rendah di angka 0,69 persen (membaik 0,33 persen). Selanjutnya, Sektor Pengangkutan dan Pergudangan tumbuh 8,59 persen YoY menjadi Rp32,47 triliun dengan NPL 0,77 persen.
Di sisi lain, perbankan di Jawa Barat mencatatkan perlambatan pada Sektor Konstruksi yang mengalami kontraksi sebesar 1,23 persen YoY dari Rp59,92 triliun menjadi Rp59,18 triliun (turun sekitar Rp739 miliar). Penurunan ini sejalan dengan peningkatan risiko kredit atau NPL pada sektor tersebut yang memburuk 0,66 persen menjadi 3,32 persen.
Darwisman menjelaskan bahwa penyesuaian penyaluran kredit pada sektor konstruksi merupakan bagian dari penerapan prinsip kehati-hatian (prudential banking) oleh perbankan untuk meminimalisasi potensi risiko kredit bermasalah.
"Secara umum, penyaluran kredit perbankan di Jawa Barat mengalir sangat baik ke sektor-sektor produktif yang tangguh. Kami optimis dorongan pembiayaan pada industri pengolahan dan konsumsi rumah tangga akan terus menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi daerah," pungkas Darwisman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....