Literasi Keuangan Penting Gak Sih? Begini Penjelasan OJK

  • 11 Jun 2026 10:24 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Fenomena penipuan investasi bodong hingga kerugian ratusan juta rupiah masih marak terjadi di tengah masyarakat. Asisten Manajer Direktorat Literasi dan Edukasi Keuangan (DLDK), Diny Sulistyowati, menegaskan bahwa hal ini tidak lepas dari rendahnya literasi keuangan masyarakat.

“Banyak yang terjebak karena fear of missing out. Begitu ada tawaran keuntungan 50 persen, langsung ikut tanpa memahami risiko,” ujarnya dalam kegiatan ToT Redaktur, Jurnalis Media Massa, Duta Literasi Keuangan, di Cirebon, Kamis 11 Juni 2026.

Menurut Diny, literasi keuangan bukan sekadar pengetahuan, tetapi juga keterampilan dan keyakinan dalam mengelola uang. “Kalau sudah mempengaruhi sikap dan perilaku, berarti pengelolaan keuangan seseorang sudah baik. Dia tahu mana kebutuhan, mana keinginan, dan paham bahwa tabungan itu harus disisihkan, bukan disisakan,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya prinsip dasar dalam literasi keuangan, yaitu selalu menyediakan dana darurat, tabungan pendidikan, dan investasi sesuai profil risiko. “Dengan begitu, berapa pun penghasilan yang diterima, tetap ada ruang untuk menabung dan berinvestasi,” tambahnya.

Diny juga menjelaskan piramida kesejahteraan finansial. Pilar paling bawah adalah pemanfaatan produk dan layanan keuangan sesuai kemampuan dan kebutuhan. Pilar berikutnya adalah memanfaatkan produk tersebut untuk membuka peluang ekonomi. “Puncaknya adalah terciptanya kesejahteraan finansial berkesinambungan, atau yang sering disebut financial freedom,” katanya.

Dalam konteks global, Diny menyebut kunjungan Ratu Maxima dari PBB pada 2025 memberikan perspektif baru tentang financial health. Konsep ini menekankan empat kemampuan utama: mengelola keuangan sehari-hari, membangun ketahanan terhadap goncangan, merencanakan masa depan, dan memanfaatkan peluang ekonomi. “Kalau empat kemampuan ini dimiliki, masyarakat akan lebih siap menghadapi tantangan ekonomi,” ujarnya.

Ia menambahkan, literasi keuangan juga membantu masyarakat menghindari jebakan skema piramida atau investasi bodong. “Biasanya skema itu berjalan diam-diam, lalu runtuh ketika piramida bawah tidak mampu menopang. Kalau masyarakat paham literasi keuangan, mereka tidak mudah tergiur,” tegasnya.

Diny menilai, literasi keuangan harus menjadi gerakan bersama. Tidak hanya pemerintah, tetapi juga lembaga keuangan, akademisi, dan komunitas masyarakat. “Semua pihak harus berperan aktif agar masyarakat tidak hanya melek produk keuangan, tetapi juga bijak dalam menggunakannya,” katanya.

Dengan literasi keuangan yang baik, masyarakat tidak hanya terhindar dari kerugian, tetapi juga mampu membuat keputusan keuangan yang berkualitas. “Tujuan akhirnya adalah kesejahteraan finansial yang berkesinambungan. Jadi, literasi keuangan bukan sekadar teori, melainkan bekal hidup agar masyarakat lebih mandiri dan sejahtera,” pungkas Diny.

Diny menegaskan literasi keuangan adalah fondasi penting untuk melindungi masyarakat dari risiko penipuan sekaligus membuka jalan menuju kesejahteraan finansial yang berkelanjutan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....