Inklusi Pasar Modal Jabar Tumbuh 18 Persen
- 25 Nov 2025 13:09 WIB
- Bandung
KBRN,Bandung: Tingkat inklusi masyarakat Jawa Barat terhadap produk pasar modal terus menunjukkan tren positif. Hingga September 2025, jumlah Single Investor Identification (SID) di Jabar tumbuh 18,39 persen year-on-year, dengan total mencapai 3.375.784 investor. Porsi terbesar berasal dari saham 27,70 persen, Surat Berharga Negara (SBN) 17,82 persen, dan reksadana 14,87 persen.
Kepala OJK Jawa Barat, Darwisman, menegaskan pertumbuhan ini sebagai bukti meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi. “Pertumbuhan SID menunjukkan kesadaran masyarakat untuk berinvestasi semakin kuat. Pasar modal bukan hanya milik kalangan atas, tapi harus jadi instrumen kesejahteraan rakyat,” ujarnya melalui keterangan tertulisnya, Selasa (25/11/2025).
Transaksi Saham Naik 26 Persen
Nilai transaksi saham di Jawa Barat tercatat Rp31,19 triliun, meningkat 26,94 persen dibanding tahun sebelumnya. Darwisman menilai tren ini sebagai sinyal positif bagi penguatan ekonomi daerah.
Baca juga:Jabar Tempati Posisi 2, Penyaluran Kredit UMKM Terbesar
“Transaksi saham yang tumbuh hampir 27 persen menunjukkan pasar modal semakin dipercaya. Tantangan kita adalah menjaga keberlanjutan dan melindungi investor pemula,” tegasnya.
Pertumbuhan Lembaga Keuangan
Selain pasar modal, perkembangan lembaga keuangan di Jabar juga menunjukkan variasi.
- Perusahaan Pembiayaan: penyaluran Rp80,46 triliun, tumbuh 0,84 persen yoy, dengan NPL 2,86 persen.
- Modal Ventura: pembiayaan Rp3,19 triliun, naik 0,54 persen yoy, NPL 5,55 persen.
- Fintech Lending: pembiayaan Rp20,75 triliun, melonjak 19,78 persen yoy, dengan Tingkat Wanprestasi (TWP) 90 hari sebesar 3,41 persen.
- Dana Pensiun: total aset Rp25,50 triliun, naik 0,28 persen yoy.
Darwisman menekankan, pertumbuhan fintech lending yang mencapai hampir 20 persen harus diimbangi dengan pengawasan ketat agar tidak menimbulkan risiko bagi masyarakat.
Dorongan Keberlanjutan
OJK Jabar menilai inklusi pasar modal dan pertumbuhan lembaga keuangan harus diarahkan pada keberlanjutan. “Kami dorong agar investasi dan pembiayaan tidak hanya tumbuh secara angka, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat Jawa Barat,” pungkas Darwisman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....