OJK Jabar Dorong Hilirisasi Telur demi Cegah Kerugian Peternak
- 29 Sep 2026 21:10 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID,Bandung - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat mendorong hilirisasi sektor peternakan ayam petelur melalui inovasi olahan produk bernilai tambah tinggi. Langkah ini ditempuh sebagai solusi konkret memitigasi risiko kerugian peternak akibat masa kedaluwarsa telur utuh yang tergolong cepat, yakni sekitar 21 hari.
Kepala OJK Provinsi Jawa Barat, Darwisman mengemukakan, olahan seperti tepung telur, produk breakfast, pupuk cangkang, hingga nutrisi hewan peliharaan menjadi kunci memperkuat daya saing dan memperluas jangkauan pasar hingga ke tingkat global.
"Pengembangan industri tepung telur dan olahan bernilai tambah ini tidak hanya mendongkrak kinerja ekspor Jabar, tetapi juga menjadi benteng penyelamat bagi peternak dari ancaman kerugian akibat sifat telur segar yang mudah rusak," ujar Darwisman, Selasa 29 September 2026.
Komitmen penguatan ekosistem tersebut ditandai dengan peresmian ekspor 7.000 ekor Day Old Chick (DOC) serta 6,3 ton produk olahan ayam senilai 22.000 Dolar AS ke Timor Leste oleh PT TIB Group (Perfecto). Selain Timor Leste, pengiriman DOC dari Jawa Barat juga rutin merambah pasar Myanmar, Brunei Darussalam, dan Malaysia.
Guna menjaga keberlanjutan ekosistem dari hulu ke hilir, OJK Jabar menggalang kerja sama lintas sektor yang melibatkan perbankan nasional seperti Bank BJB, BNI, dan Bank Mandiri, serta lembaga jasa keuangan lainnya. Kolaborasi tersebut dikukuhkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) perluasan inklusi keuangan bagi peternak lokal.
Meski peluang ekspor terbuka lebar, Darwisman tak menampik sejumlah tantangan klasik yang masih membayangi para peternak di daerah. Di antaranya tingginya harga pakan, volatilitas harga jual telur di pasaran, hingga masih terbatasnya akses pembiayaan modal kerja.
Selain itu, aspek tata kelola dan legalitas kesehatan hewan juga dinilai perlu dipercepat. Saat ini baru ada 39 pelaku usaha peternakan ayam petelur di Jawa Barat yang mengantongi Sertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV) sebagai syarat mutlak menembus pasar ritel modern dan ekspor.
"Standardisasi NKV harus kita dorong bersama. Didukung sinergi dari Bea Cukai untuk pembukaan pasar ekspor baru, kita optimistis komoditas unggulan ini mampu melompat lebih jauh," tegasnya.
Darwisman menekankan, penguatan ekosistem terpadu melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) di 18 kabupaten dan 9 kota menjadi kunci utama mewujudkan Jawa Barat sebagai lumbung pangan nasional yang tangguh.
Model kolaborasi terintegrasi di Jawa Barat ini diharapkan dapat direplikasi oleh provinsi lain di Indonesia. Sinergi lintas sektor dianggap menjadi bahan bakar utama dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....