Pemikiran Adam Smith Dinilai Relevan untuk Indonesia Emas 2045 dan Ekonomi Global

  • 19 Agt 2026 15:48 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Jakarta – Pemikiran ekonom Adam Smith dinilai masih relevan untuk menjawab tantangan pembangunan Indonesia menuju 2045. Tak terbatas di situ, bahkan pemikiran itu juga dinilai mampu menghadapi fragmentasi ekonomi global, perubahan rantai pasok, ketidakpastian geopolitik dan gejolak sektor keuangan.

Hal tersebut disampaikan dalam Adam Smith Lecture pada rangkaian SBM ITB Industrial Summit 2026 di AYANA Midplaza, Jakarta, Rabu 19 Agustus 2026. Forum yang digelar School of Business and Management Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) bersama University of Glasgow ini menghadirkan Prof. Deddy Priatmodjo Koesrindartoto dari SBM ITB dan Prof. Soner Baskaya dari University of Glasgow.

Di kesempatan itu, Deddy yang merupakan Ketua Kelompok Keahlian Business Risk and Finance (KK BRF) SBM ITB, mengatakan, pemikiran Adam Smith perlu dibaca secara utuh melalui karyanya, termasuk The Wealth of Nations dan The Theory of Moral Sentiments. Menurutnya, Smith tidak hanya berbicara mengenai pasar bebas dan konsep invisible hand, tetapi juga pendidikan, struktur pasar, kepercayaan, akses modal dan pemerataan kemakmuran.

"Apakah Adam Smith masih relevan sekarang? jawabannya tentu saja iya, Kalau saya menyebut Adam Smith, apa yang pertama kali terlintas di pikiran Anda? Invisible hand, pasar bebas, pemerintahan kecil, tapi pemikiran Adam Smith tak berhenti di situ," ujar Deddy, Rabu 19 Agustus 2026.

Menurut Deddy, keberhasilan Indonesia Emas 2045 tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi dan besarnya GDP. Kemajuan harus dirasakan masyarakat di berbagai daerah melalui peningkatan produktivitas, kesempatan ekonomi dan distribusi manfaat pertumbuhan yang lebih luas.

Ia menawarkan tiga perspektif utama, yakni struktur pasar dan kepentingan publik, penguatan sumber daya manusia, moral dan kepercayaan, serta penciptaan nilai dan pengelolaan modal. Pendidikan dinilai penting karena tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga berkaitan dengan pembentukan moral dan kepercayaan.

Sementara itu, Prof. Soner Baskaya, Professor of Economics at Adam Smith Business School, University of Glasgow, menilai produktivitas merupakan fondasi utama kemakmuran suatu bangsa. Produktivitas tersebut berkaitan dengan spesialisasi dan pembagian kerja yang membutuhkan pasar yang cukup besar serta saling terhubung.

"Adam Smith selalu melihat produktivitas sebagai sumber kekayaan nasional," kata Soner dalam kesempatan yang sama, Rabu 19 Agustus 2026.

Menurut Soner, kondisi ekonomi global saat ini menghadapi fragmentasi akibat ketegangan geopolitik, pembatasan perdagangan dan perubahan rantai pasok. Kondisi tersebut berpotensi mempersempit pasar dan menghambat spesialisasi yang selama ini menjadi salah satu sumber peningkatan produktivitas.

"Pertanyaan besarnya adalah bagaimana mempertahankan manfaat keterbukaan ekonomi sekaligus membangun penyangga untuk menghadapi guncangan," ujarnya.

Dalam konteks Indonesia, Deddy menyoroti tingginya biaya distribusi dan rantai pasok akibat kondisi geografis sebagai negara kepulauan. Ia menilai ekonomi digital dapat menjadi infrastruktur baru untuk menekan biaya transaksi, memperluas pasar dan meningkatkan produktivitas.

Deddy menegaskan agenda Indonesia 2045 tidak boleh hanya mengejar angka pertumbuhan. Sementara itu, Soner menekankan pentingnya sistem keuangan dan perbankan dalam menyalurkan modal ke investasi produktif dengan tetap disertai regulasi dan pengawasan.

"Keuangan memperluas pasar, memperdalam produktivitas dan membiayai investasi produktif, tetapi harus disertai institusi yang membatasi risiko melalui regulasi yang tepat," katanya menjelaskan.

Adam Smith Lecture menjadi bagian dari rangkaian SBM ITB Industrial Summit 2026 sekaligus momentum 250 tahun publikasi The Wealth of Nations. Forum tersebut menjadi ruang untuk menghubungkan pemikiran ekonomi klasik dengan tantangan saat ini, mulai dari produktivitas, perdagangan dan investasi hingga ketahanan keuangan serta fragmentasi ekonomi global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....