Wamen Ekraf Tekankan Bahasa Ekspresi Fondasi Ekonomi Kreatif
- 08 Feb 2026 14:30 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung – Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf) Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif RI, Irene Umar, menegaskan bahwa bahasa dan ekspresi merupakan fondasi utama dalam pengembangan ekosistem ekonomi kreatif nasional. Menurutnya, hampir seluruh subsektor ekonomi kreatif bertumpu pada bahasa sebagai medium dasar penyampaian gagasan dan nilai.
“Kalau penerbitan basisnya adalah bahasa, di radio basisnya adalah kata-kata yang kita ucapkan atau ekspresi. Kalau kita lihat dari film, musik, semuanya adalah bentuk ekspresi. Landasannya tetap sama, yaitu bahasa dan kata,” ujar Irene di kota Bandung, Minggu 8 Februari 2026.
Baca Juga: Peluncuran Radio-Ekraf di Bandung, Perkuat Ekosistem Ekonomi Kreatif
Irene menjelaskan, kekuatan bahasa dan ekspresi tersebut menjadi engine of growth bagi subsektor ekonomi kreatif lainnya. Oleh karena itu, pembangunan ekosistem ekonomi kreatif tidak bisa dilakukan secara instan tanpa fondasi yang kuat.
“Buat saya, ini adalah fondasi. Kita enggak bisa langsung ‘terbang’ begitu saja. Enggak ada yang instan. Fondasinya harus dibentuk dulu. Dan itu sebabnya kita ada di sini, untuk saling mengingatkan bahwa ayo kita bangun fondasi tersebut bersama-sama,” katanya.
Irene menekankan pentingnya kebebasan berekspresi yang tetap berlandaskan integritas dan etika, khususnya dalam penyajian informasi kepada publik. Ia mengingatkan agar pelaku media dan kreator konten tidak terjebak pada praktik clickbait yang mengorbankan kebenaran.
“Kebebasan berekspresi harus kita hormati. Tapi yang kita tekankan cuma satu, yaitu integritas dan etika dalam menyajikan informasi yang faktual, bukan clickbaiting. Negara kita tidak butuh clickbait,” tegasnya.
Ia menilai, masyarakat saat ini telah mengalami information overload, sehingga yang paling dibutuhkan bukan sekadar kecepatan atau sensasi, melainkan keaslian dan kejujuran informasi.
“Yang dibutuhkan itu authenticity. Apa sih yang sebenarnya terjadi. Apa yang benar-benar kita lewati dan kita rasakan. Itu yang paling penting,” ucapnya.
Dalam konteks kebangsaan, Irene juga menyoroti karakter Indonesia sebagai negara yang menjunjung tinggi hak, integritas, serta nilai kebersamaan dalam keberagaman. Ia menilai, momentum perayaan lintas budaya dan agama menjadi cerminan kuat identitas Indonesia sebagai negara inklusif.
“Tahun ini kita baru melewati Natal, akan merayakan Imlek, dan untuk pertama kalinya ada Harmoni Imlek Nusantara. Lalu kita juga akan memasuki bulan Ramadan dan buka puasa bersama. Bayangkan, buka puasa sambil ‘imlekan’ bareng, alangkah indah dan damainya,” tuturnya.
Menurut Irene, keberagaman tersebut harus ditampilkan kepada dunia sebagai kekuatan bangsa.
“Kita harus menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya negara yang toleran, tapi negara yang paling inklusif di dunia,” tandasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....