Generasi Muda Jaga Napas Seni Reak
- 30 Agt 2026 22:04 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan seni reak Sunda. Hal itu agar tetap hidup tanpa kehilangan nilai, sejarah, dan jati dirinya di tengah perubahan zaman.
Hal tersebut mengemuka dalam program Obrolan Budaya Berjaringan produksi RRI Bandung yang ditayangkan melalui kanal YouTube RRI Bandung Live pada 13 Agustus 2026 lalu. Menghadirkan budayawan sekaligus pupuhu seni reak Abah Enjum bersama generasi penerusnya, Karisma Cahayati.
Abah Enjum mengatakan, keberlangsungan seni reak tidak cukup hanya dilakukan dengan mempertahankan pertunjukan. Namun harus disertai pemahaman terhadap sejarah, literatur, filosofi, serta nilai yang terkandung di dalamnya.
Menurutnya, perubahan zaman telah membawa seni reak mengalami berbagai perkembangan. Sehingga para pelaku kesenian perlu memahami sumber yang otentik agar perkembangan tersebut tidak menyebabkan kesalahpahaman terhadap identitas reak.
“Harus punya keinginan untuk mencari literatur yang jelas. Intinya harus punya keinginan mencari literatur yang jelas,” ujar Abah Enjum Minggu 30 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, keresahannya terhadap perkembangan seni reak mulai tumbuh ketika melihat adanya perubahan karakter pertunjukan pada dekade 1990-an hingga awal 2000-an. Menurutnya semakin jauh dari nilai dan tuntunan awal kesenian tersebut.
Abah Enjum kemudian memilih mempelajari lebih dalam sejarah dan berbagai unsur dalam seni reak untuk memahami perubahan yang terjadi. Selain itu mencari dasar pengetahuan yang dapat digunakan sebagai pijakan regenerasi.
Menurut Abah Enjum, seni reak pada dasarnya merupakan kesenian agraris yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat dan lingkungan. Sebelum kemudian mengalami pergeseran fungsi seiring perubahan kehidupan masyarakat menuju sektor industri.
Perubahan tersebut membuat seni reak kini lebih sering ditampilkan dalam berbagai kegiatan masyarakat, seperti khitanan, pernikahan, perayaan ulang tahun, maupun kegiatan lainnya yang membutuhkan pertunjukan seni tradisional. Meskipun mengalami perkembangan fungsi dan bentuk penyajian, Mbah Enjum menegaskan bahwa nilai dasar seni reak harus tetap dipahami oleh setiap generasi yang mempelajarinya.
| Baca juga: Perempuan Sunda Rawat Tradisi Lewat Kacapi |
Ia menyebut berbagai unsur dalam seni reak, seperti dog-dog, bebarongan, lulumpingan, bedug, angklung, hingga instrumen pelengkap lainnya, memiliki makna dan filosofi yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat.
“Di dalam seni reak itu ada nilai. Di balik nilai itu ada pengendali, adalah sebagai malim. Kalau tidak tahu tentang nilainya, sejarahnya pun mereka tidak akan tahu,” katanya.
Abah Enjum menilai salah satu tantangan terbesar regenerasi seni reak saat ini adalah kecenderungan sebagian pelaku hanya berorientasi pada pertunjukan. Menurutnya tanpa disertai upaya menggali sejarah dan sumber pengetahuan yang mendasarinya.
Karena itu, ia mendorong para seniman dan generasi muda untuk menjadikan penelitian, literatur, serta kajian budaya sebagai bagian dari proses pengembangan seni reak agar tidak kehilangan akar sejarahnya. Upaya tersebut juga mulai dilakukan melalui keterlibatan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi yang melakukan penelitian mengenai seni reak sebagai bagian dari kajian akademik dan dokumentasi kebudayaan.
Abah Enjum berharap proses regenerasi tidak berhenti pada pewarisan kemampuan memainkan alat musik atau mengikuti pertunjukan, tetapi juga mencakup pemahaman terhadap nilai, aturan, adab, dan karakter yang terkandung dalam kesenian tersebut.
Sementara itu, Karisma Cahayati yang merupakan generasi muda sekaligus bagian dari keluarga Abah Enjum mengaku memilih mendalami seni reak bukan karena mengikuti tren atau mengejar popularitas di media sosial. Karisma mengatakan, ketertarikannya terhadap seni reak justru muncul setelah melihat adanya nilai kehidupan yang terkandung dalam kesenian tersebut.
Terutama ketika banyak hiburan modern dirasakannya tidak selalu memberikan makna bagi kehidupan. “Yang pertama bukan FOMO, bukan ikut-ikutan buat tenar. Saya melihat seni reak sebagai suatu potensi kesenian yang besar, memiliki nilai dan tuntunan untuk kehidupan,” ujar Karisma.
Menurut Karisma, proses mempelajari seni reak membuat dirinya memahami bahwa tradisi tidak harus selalu dilihat melalui pendekatan mistis atau sesuatu yang menakutkan. Tetapi dapat dipelajari dengan menyeimbangkan logika, ilmu pengetahuan, pengalaman, dan pemahaman budaya.
Ia menilai pendekatan tersebut penting diterapkan kepada generasi muda agar mereka tidak langsung memberikan penilaian terhadap kesenian tradisional hanya berdasarkan tampilan luarnya. Karisma juga menggunakan pendekatan pendidikan untuk memperkenalkan berbagai unsur seni reak kepada anak-anak.
Sehingga mereka dapat memahami nilai budaya melalui cara yang lebih menyenangkan dan mudah diterima. Menurutnya, proses regenerasi membutuhkan cara yang berbeda sesuai dengan karakter setiap generasi.
Nilai yang diwariskan para sesepuh dapat diterjemahkan melalui pendekatan pendidikan dan kreativitas. “Saya mungkin pakai kaca pandang pendidikan. Cara saya meregenerasi mungkin berbeda, tetapi nilai-nilainya tetap saya dapatkan dari Abah,” tuturnya.
Karisma kini turut mengembangkan gagasan Sekolah Lawang sebagai salah satu upaya menerjemahkan nilai-nilai yang diperolehnya dari seni reak ke dalam pendekatan pendidikan dan pembelajaran generasi muda. Ia menegaskan, proses pelestarian budaya tidak harus menunggu langkah besar karena setiap generasi dapat memulai dari sesuatu yang bisa dilakukan pada saat ini.
“Yang bisa kita lakukan hari ini, lakukan. Yang penting jangan diam. Terus gali dari berbagai ilmu pengetahuan,” katanya.
Bagi Abah Enjum, keberhasilan regenerasi seni reak tidak hanya diukur dari bertambahnya jumlah pemain, tetapi dari kemampuan generasi penerus mempertahankan roh dan jati diri kesenian tersebut. Ia mengingatkan, seni reak dapat kehilangan identitas apabila generasi penerus tidak lagi mempelajari sejarah, nilai, serta aturan yang menjadi dasar keberadaan kesenian tersebut.
Abah Enjum juga menekankan pentingnya kreativitas dalam mengembangkan seni reak agar tetap dapat diterima masyarakat tanpa menghilangkan nilai budaya yang diwariskan para pendahulu. “Seni tradisi itu identitas jati diri bangsa. Mari kita angkat, kita gali, kita pahami, kita dalami tentang unsur-unsur filosofi dan nilai-nilainya,” ucap Abah Enjum.
Sementara Karisma mengajak generasi muda Jawa Barat dan Indonesia untuk tidak merasa malu mempelajari budaya daerah karena kekayaan tradisi merupakan bagian penting dari identitas masyarakat.
Ia menilai perkembangan teknologi dan media sosial seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai sarana memperkenalkan budaya, bukan menjadi alasan generasi muda semakin menjauh dari akar tradisinya. “Jangan takut disebut kuno. Justru ketika kamu lupa sama identitasmu, yang kuno siapa?” ujar Karisma.
Pesan tersebut memperlihatkan bahwa regenerasi seni reak membutuhkan pertemuan antara pengalaman para sesepuh dengan kreativitas generasi muda agar tradisi tetap hidup sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan masyarakat.
Melalui proses pendidikan, penelitian, kreativitas, dan keterlibatan langsung generasi muda, seni reak diharapkan tidak hanya bertahan sebagai pertunjukan budaya, tetapi tetap menjadi bagian dari identitas masyarakat Sunda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....