Tradisi Mitembeyan Dibuat: Syukur sebelum Panen

  • 28 Agt 2026 09:28 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung : Mitembeyan Dibuat merupakan tradisi adat masyarakat Sunda yang dilaksanakan tepat sebelum kegiatan memanen padi (dibuat) dimulai. Kata mitembeyan berasal dari bahasa Sunda yang berarti "memulai," sehingga ritual ini secara harfiah dimaknai sebagai langkah awal untuk membuka musim panen.

Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini bukan sekadar rutinitas pertanian, melainkan simbol rasa syukur yang mendalam kepada Sang Pencipta atas kelimpahan hasil bumi yang siap dipetik.

Dalam pandangan hidup masyarakat Sunda tradisional, padi memiliki kedudukan spiritual yang sangat tinggi karena dianggap sebagai manifestasi atau jelmaan dari Nyi Pohaci Sanghyang Asri, Dewi Padi dan Kesuburan. Oleh karena itu, proses pemanenan tidak boleh dilakukan secara sembarangan atau terburu-buru.

Ritual Mitembeyan Dibuat digelar untuk memohon izin, keselamatan, dan keberkahan agar proses memanen berjalan lancar serta hasil beras yang didapat bisa membawa kebaikan bagi seluruh keluarga.

Prosesi ritual ini biasanya dipimpin oleh seorang sesepuh adat atau tokoh masyarakat setempat di area persawahan. Berbagai perlengkapan upacara disiapkan, seperti sajian makanan tradisional (tumpeng, bubur merah putih, kupat), kemenyan, serta dedaunan khusus yang memiliki makna simbolis.

Sesepuh adat akan membacakan doa-doa keselamatan yang menggabungkan nilai-nilai spiritualitas lokal dengan ajaran agama, memohon agar padi yang dipanen terhindar dari kerusakan dan membawa ketenteraman hidup.

Setelah pembacaan doa selesai, ritual dilanjutkan dengan pemotongan tangkai padi pertama menggunakan ani-ani (ketam), alat pemotong padi tradisional dari kayu dan bambu. Padi pertama yang dipotong ini diperlakukan secara khusus dan dinamakan sari bumi atau ibu padi.

Tangkai padi pilihan tersebut nantinya akan dibawa pulang dan disimpan di dalam leuit (lumbung padi tradisional) sebagai "induk" yang dipercaya akan menjaga persediaan pangan keluarga agar senantiasa cukup dan tidak pernah kekurangan. Di era modernisasi dan mekanisasi pertanian saat ini, keberadaan tradisi Mitembeyan Dibuat memang semakin jarang ditemui di beberapa daerah.

Namun, bagi masyarakat yang masih melestarikannya, tradisi ini mengandung pesan moral yang sangat kuat tentang pentingnya menjaga keselarasan antara manusia, alam, dan Pencipta. Mitembeyan Dibuat mengajar kita untuk selalu mengawali segala bentuk pekerjaan dengan doa, menghormati sumber kehidupan, dan tidak lupa bersyukur atas setiap rezeki yang diterima.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....