Faktor yang Menjadikan Masakan Sunda Tidak Manis

  • 08 Agt 2026 15:54 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Berbagai masakan khas yang ada di Indonesia memili identitas rasa masing-masing, ada yang manis, asin, gurih, dan sensasi rasa lainnya. Masakan khas Sunda yang cenderung tidak terlalu manis, ternyata ada sejarah didalamnya.

Bagi beberapa orang mungkin menjadi satu pertanyaan, mengapa masakan khas Orang Sunda selalu memiliki rasa Gurih dan tidak terlalu manis. Ternyata bukan hanya tentang selera, tetapi ada banyak hal yang menjadi alasannya, diantaranya adalah kondisi geografis, warisan Kolonial, Filosofi Urang Sunda, dan Identitas.

Hal ini dijelaskan dalam sebuah artikel yang dikutip dari laman Info Bandung Barat tentang “Di Balik Rasa Gurih dan Pedas Masakan Sunda, Tersimpan Sejarah yang Membentuk Identitas Tatar Sunda” yang ditulis oleh Ayu Diah. Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa Salah satu ciri paling khas dari masakan Sunda adalah kebiasaan mengonsumsi lalapan segar yang disajikan bersama sambal.

Tradisi ini telah diwariskan selama berabad-abad dan masih menjadi bagian penting dari pola makan masyarakat Sunda. Seperti dijelaskan juga dalam artikel “Sejarah Preferensi Rasa Asin dan Manis di Pulau Jawa” yang diterbitkan oleh Yayasan Masyarakat Madani Indonesia (YAMMI), masyarakat di wilayah Jawa bagian barat telah lama terbiasa mengonsumsi sayuran segar sebagai bagian dari makanan sehari-hari karena lalapan memiliki cita rasa yang ringan, sambal menjadi pelengkap utama untuk menghadirkan rasa gurih sekaligus pedas.

Faktor yang membentuk cita rasa masakan Sunda juga dari kondisi geografis, dimana wilayah Priangan sejak lama dikenal sebagai kawasan pegunungan yang subur dan menjadi pusat perkebunan kopi, teh, kina, serta tarum. Berbeda dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur yang berkembang sebagai sentra perkebunan tebu, Priangan tidak memiliki sejarah panjang sebagai daerah penghasil gula dalam jumlah besar.

Seperti tercatat dalam artikel YAMMI, perbedaan komoditas tersebut memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Karena gula bukan bahan pangan yang mudah diperoleh, masyarakat lebih mengembangkan masakan yang mengandalkan garam, rempah-rempah, cabai, dan terasi untuk membangun cita rasa.

Perbedaan preferensi rasa di Pulau Jawa juga tidak dapat dilepaskan dari kebijakan ekonomi pada masa kolonial Belanda. Melalui sistem tanam paksa (Cultuurstelsel), pemerintah Hindia Belanda menjadikan Priangan sebagai pusat produksi kopi dan teh untuk kebutuhan ekspor. Di sisi lain, industri gula berkembang pesat di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur yang memiliki lahan lebih sesuai untuk budidaya tebu.

Dalam buku Indonesian Regional Food and Cookery, Sri Owen” menjelaskan bahwa kuliner Sunda dikenal karena kesegarannya serta kemampuannya mempertahankan karakter alami setiap bahan pangan. Filosofi inilah yang membuat masakan Sunda tetap sederhana, tetapi kaya rasa.

Karena itu, ketika menikmati sepiring nasi timbel, sambal, pepes, ikan bakar, atau karedok, sesungguhnya kita tidak hanya sedang menikmati makanan. Kita juga sedang merasakan jejak sejarah yang diwariskan selama berabad-abad dan terus hidup dalam setiap hidangan khas Sunda.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....