Munas Outsider Indonesia Bahas Regenerasi dan Masa Depan Organisasi
- 08 Agt 2026 15:51 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Musyawarah Nasional (Munas) MMC Outsider Indonesia digelar di Dago Heritage, Bandung, Sabtu 8 Agustus 2026.Agenda tersebut menjadi momentum penting bagi organisasi untuk menentukan arah kepengurusan sekaligus mengevaluasi berbagai dinamika yang berkembang di sejumlah chapter.
Ketua Munas MMC Outsider Indonesia, Hendrix, mengatakan kegiatan tersebut digelar karena masa kepengurusan periode 2022-2026 telah berakhir. Munas sekaligus menjadi forum untuk memilih pimpinan atau yang dalam istilah internal organisasi disebut “Brain” untuk periode empat tahun mendatang.
“Hari ini, 8 Agustus 2026, kami dari MMC Outsider Indonesia melaksanakan Musyawarah Nasional. Kepengurusan periode 2022 sampai 2026 sudah selesai, sehingga kami mengadakan Munas untuk memilih Brain untuk empat tahun ke depan,” ujar Hendrix.
Menurut Hendrix, pelaksanaan Munas di Dago Heritage tidak terlepas dari dukungan sejumlah pihak, termasuk Dewan Presidium MMC Outsider Indonesia. Dukungan tersebut dinilai penting untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan baik dan dapat diikuti oleh perwakilan chapter dari berbagai daerah.
“Kebetulan Munas kali ini kami adakan di Dago Heritage. Kami mendapat bantuan dari Dewan Presidium, di antaranya Kang Wiman dan Kang Oboy, serta dukungan teman-teman kepanitiaan sehingga kegiatan ini bisa terselenggara,” katanya.

MMC Outsider Indonesia saat ini memiliki 26 chapter yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan menjadi salah satu tantangan tersendiri dalam menghadirkan seluruh perwakilan chapter secara langsung dalam satu lokasi.
“Kami memiliki 26 chapter dan berharap semuanya bisa hadir. Namun karena chapter kami tersebar, ada yang di Kalimantan dan Sulawesi, maka kali ini kami menggabungkan kehadiran langsung dengan Zoom nasional,” jelas Hendrix.
Dari total chapter tersebut, sebanyak 18 chapter mengirimkan perwakilan untuk hadir langsung di lokasi Munas. Sementara chapter lainnya mengikuti agenda secara daring melalui Zoom sehingga seluruh chapter tetap dapat berpartisipasi dalam proses musyawarah nasional.
“Dari 26 chapter, ada 18 chapter yang mewakilkan hadir secara langsung di sini. Sisanya mengikuti melalui Zoom nasional. Jadi pada prinsipnya seluruh chapter tetap terlibat dalam Munas,” ujarnya.
Hendrix menyebut jumlah peserta yang mengikuti Munas mencapai ratusan orang. Sistem partisipasi yang diterapkan juga memberikan kesempatan kepada anggota aktif di setiap chapter untuk mengikuti proses musyawarah melalui mekanisme yang telah ditentukan organisasi.
“Pesertanya kurang lebih pasti ratusan. Untuk Zoom nasional juga kami memberikan syarat bahwa setiap chapter harus melakukan musyawarah internal. Life member yang aktif, baik support, rookie maupun life member, wajib berkumpul dalam satu tempat untuk mengikuti proses tersebut,” katanya.

Sementara itu, Ketua Presidium Munas, Oboy, mengatakan forum tersebut tidak hanya membahas pemilihan Brain. Sejumlah persoalan internal organisasi, perkembangan chapter, dinamika komunitas, hingga usulan perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) juga menjadi bagian dari pembahasan.
“Dalam Munas sekaligus Anniversary ke-38 ini, kami membahas beberapa isu yang ada di klub, termasuk perkembangan klub dan dinamika masing-masing chapter yang berbeda-beda. Kami juga melakukan pemilihan ketua atau presiden yang biasa kami sebut Brain,” kata Oboy.
Menurut Oboy, sejumlah aturan di tingkat chapter perlu dievaluasi agar dapat menyesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah. Perbedaan karakteristik wilayah membuat penerapan aturan tertentu, seperti persyaratan anggota dan kewajiban touring, tidak selalu dapat disamakan antara satu chapter dengan chapter lainnya.
“Beberapa pekerjaan rumah kami adalah aturan di chapter. Indonesia merupakan negara kepulauan, sehingga ada perbedaan syarat menjadi anggota maupun aturan seperti touring wajib. Bandung, Makassar dan Singkawang tentu memiliki kondisi yang berbeda,” ungkapnya.
Selain aturan keanggotaan, Munas juga membahas penggunaan istilah-istilah internal yang menjadi identitas MMC Outsider Indonesia. Oboy menjelaskan bahwa organisasi memiliki istilah khas seperti Brain untuk pemimpin dan Heart untuk pengurus, yang berkaitan dengan simbol dan filosofi organisasi.
“Kami juga melakukan beberapa revisi tentang istilah yang digunakan di klub. Lambang kami adalah burung kondor dan kami memiliki istilah-istilah yang cukup khas. Selain Brain sebagai pemimpin, pengurus disebut Heart. Beberapa istilah lainnya juga akan disesuaikan dalam perubahan AD/ART dan administrasi,” tuturnya.
Oboy menambahkan, pembahasan Munas juga diarahkan pada penyusunan kalender kegiatan dan strategi pengembangan organisasi ke depan. Tujuannya agar keberadaan Outsider Indonesia semakin kuat dan mampu menjangkau berbagai aspek kehidupan komunitas bermotor di Indonesia.
“Ke depan kami juga membahas kalender event dan perkembangan organisasi. Harapannya Outsider semakin maju, semakin mengakar, dan bisa menjangkau lebih banyak aspek kehidupan bermotor di Indonesia,” katanya.

Di luar aktivitas internal organisasi, Outsider Indonesia juga memiliki perhatian terhadap kegiatan sosial dan lingkungan. Program tersebut antara lain kunjungan ke panti asuhan, kegiatan buka puasa bersama setiap Ramadan, rencana penanaman pohon, serta kolaborasi dengan berbagai klub motor dalam kegiatan yang menyentuh persoalan sosial masyarakat.
“Outsider sejak dulu sudah berkaitan dengan dunia luar. Kami pernah melakukan kunjungan ke panti asuhan, buka bersama setiap Ramadan, dan ke depan akan melakukan penanaman pohon. Kami juga berkolaborasi dengan beberapa klub untuk melakukan kegiatan sosial,” ujar Oboy.
Ia menegaskan, kegiatan sosial tersebut menjadi salah satu cara Outsider Indonesia berkontribusi kepada masyarakat tanpa membawa kepentingan politik. Bahkan, organisasi memiliki program “Honorary” sebagai bentuk penghargaan kepada sosok-sosok yang dinilai mampu memberikan keteladanan, baik dari kalangan pejabat maupun masyarakat umum.
“Kami tidak berpolitik, tetapi mencoba masuk ke kehidupan bernegara melalui cara-cara sosial yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Kami juga memiliki istilah Honorary untuk memberikan penghargaan kepada orang yang kami anggap menjadi suri teladan, bisa pejabat, tukang becak, bahkan tukang tambal sekalipun,” ungkapnya.
Terkait sosok Brain yang akan memimpin organisasi untuk periode berikutnya, Oboy berharap figur terpilih mampu mengikuti perkembangan zaman, terutama dalam pemanfaatan teknologi dan media sosial. Ia juga berharap Outsider dapat menjadi wadah yang mampu mengembangkan potensi ekonomi dan keterampilan para anggotanya tanpa menghilangkan nilai persaudaraan.
“Brain ke depan harus bisa mengikuti zaman. Sekarang semuanya serba mudah melalui media sosial. Kami berharap Outsider juga bisa menjadi wadah yang berdayaguna seperti mesin produksi, dalam arti orang-orang yang masuk ke Outsider dapat mengembangkan bakat dan kemampuannya,” katanya.
Oboy menilai potensi ekonomi anggota sebenarnya telah terlihat sejak lama melalui berbagai keterampilan yang berkembang di lingkungan komunitas, termasuk usaha bengkel dan modifikasi kendaraan. Karena itu, salah satu pekerjaan rumah Brain berikutnya adalah mengembangkan potensi tersebut sekaligus menjaga soliditas 26 chapter yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
“Jangan salah, Outsider merupakan klub yang sejak awal mencoba mengubah motor yang sebelumnya tidak bermanfaat menjadi bermanfaat. Di situ ada unsur ekonomi. Beberapa anggota sudah mampu mengembangkan bengkel dan usaha lainnya. Ini menjadi PR Brain berikutnya, selain menyatukan chapter yang tersebar agar tetap menjadi kekuatan yang solid dalam satu kesatuan Indonesia,” tegas Oboy.
Untuk memperluas dampak sosial, Outsider Indonesia juga membuka peluang kerja sama dengan sejumlah perusahaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. Oboy mengatakan, pihaknya telah menjalankan pola kolaborasi tersebut dan akan terus mengembangkannya dengan menjadi penghubung antara perusahaan yang memiliki kepedulian sosial dengan masyarakat yang membutuhkan.

“Kami pernah beberapa kali melakukan CSR bersama perusahaan dan akan kami lanjutkan. Kami tidak selalu berbentuk proposal, tetapi menangkap perusahaan yang memang ingin memberikan yang terbaik bagi warga dan rakyat Indonesia. Kami menjadi medianya,” pungkas Oboy.
Melalui Munas dan peringatan Anniversary ke-38, MMC Outsider Indonesia berharap mampu memasuki fase baru dengan kepengurusan yang adaptif, solid, dan memiliki kepedulian sosial. Regenerasi kepemimpinan diharapkan tidak hanya menjaga eksistensi organisasi, tetapi juga memperkuat persaudaraan antar chapter serta memperluas kontribusi komunitas motor bagi masyarakat dan Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....