Wujud Jiwa Sosial dalam Tembang Sunda Cianjuran

  • 30 Jul 2026 16:54 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung: Tembang Sunda awalnya berasal dari Cianjur, salah satu daerah yang ada di Jawa Barat. Karena Cianjur merupakan tempat awal lahirnya kesenian tersebut, sehingga lebih dikenal dengan Tembang Sunda Cianjuran.

Bagi masyarakat Sunda, Kacapi Suling dan Tembang Sunda bukan hanya sekedar sebuah jenis kesenian. Lebih dari itu, Tembang Sunda Cianjuran mencerminkan jati diri masyarakat Sunda.

Menurut catatan sejarah dari beberapa sumber menyatakan bahwa Tembang Sunda Cianjuran mulai dikenal luas di luar Cianjur sejak tahun 1921 berkat tokoh bernama Ece Majid. Istilah Tembang Sunda Cianjuran disepakati pada tahun 1930-an dan dikukuhkan dalam musyawarah tahun 1962.

Dikutip dari laman Perpustakaan Digital Budaya Indonesia tentang Cianjuran, dijelaskan bahwa Cianjuran adalah kesenian dari Cianjur, sebenarnya nama alat musik ini adalah mamaos. Alat musik khas sunda sejak tahun 1930. Alat musik ini terdiri dari kecapi ricik, dipadukan dengan suling, rebab, dan kacapi indung.

Dibarengi oleh penyanyi dengan berbahasa Sunda atau biasa disebut Panembang, Juru Tembang, atau Juru Mamaos, bernyanyi dengan cengkok atau ornamentasi yang khas. Seni Cianjuran awalnya hanya menyanyikan seni Pantun yang dilagukan dengan lirik yang diambil dari kisah pantun Mundinglaya Dikusumah.

Dari pertunjukannya, Kacapi Suling dan Tembang Sunda dimainkan dengan ansamble atau gabungan dari beberapa alat. Hal tersebut mencerminkan masyarakat Sunda yang memiliki jiwa sosial yang tinggi yang akan menghasilkan hal yang lebih baik ketika bisa menjalin kebersamaan.

pertunjukan kesenian Tembang Sunda sudah mulai bergeser, awalnya disajikan hanya bisa dinikmati di Pendopo Cianjur oleh kaum bangsawan saja. Saat Tembang Sunda Cianjuran sudah bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....