Tradisi Dinilai Perkuat Karakter Anak
- 30 Jul 2026 06:45 WIB
- Bandung
Poin Utama
- Tradisi tetap relevan sebagai sarana membangun karakter anak di tengah perkembangan teknologi digital dan pengaruh budaya global.
- Pendidikan karakter melalui tradisi harus dikemas dengan pendekatan yang menyenangkan menggunakan aktivitas bermain dan pengalaman langsung, bukan metode kuno.
- Karisma Cahayati, Founder Sekolah Lawang, menyatakan bahwa nilai-nilai budaya menjadi bekal generasi muda untuk tumbuh mandiri, bertanggung jawab, dan peduli lingkungan serta masyarakat.
RRI.CO.ID, Bandung - Tradisi dinilai tetap relevan sebagai sarana membangun karakter anak di tengah derasnya perkembangan teknologi digital dan pengaruh budaya global. Melalui pendekatan yang menyenangkan, nilai-nilai budaya dapat menjadi bekal generasi muda untuk tumbuh sebagai pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.
Disampaikan Founder Sekolah Lawang, Karisma Cahayati, S.Pd., dalam program Obrolan Budaya di kanal YouTube RRI Bandung Live yang tayang pada 30 Juli 2026, pendidikan karakter melalui tradisi tidak boleh dipahami sebagai metode yang kuno, tetapi harus dikemas sesuai dengan dunia anak melalui aktivitas bermain dan pengalaman langsung.
Menurut Karisma, tantangan terbesar dalam pengasuhan saat ini adalah meningkatnya ketergantungan anak terhadap gawai. Karena itu, orang tua dan pendidik perlu menghadirkan aktivitas alternatif yang menarik sehingga anak memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna dibandingkan hanya menghabiskan waktu di depan layar.
| Baca juga: Makna “Meuleum Palita” dalam Budaya Sunda |
Ia menjelaskan, Sekolah Lawang menerapkan pembelajaran berbasis pengalaman melalui berbagai kesenian tradisional, seperti seni reak dan permainan alat musik karinding. Aktivitas tersebut tidak hanya mengenalkan budaya lokal, tetapi juga mengajarkan disiplin, kerja sama, kreativitas, serta tanggung jawab ketika anak harus mempersiapkan hingga merapikan kembali peralatan yang digunakan.
"Kita tidak mengajarkan tradisi dengan cara menggurui, tetapi mengajak anak bermain sehingga mereka menemukan sendiri nilai-nilai yang terkandung di dalamnya," ujar Karisma.
Selain kesenian, pendidikan karakter juga dibangun melalui kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi makan bersama, menjaga kebersihan lingkungan, mengelola sampah, hingga menghormati orang tua dan sesama menjadi bagian dari proses pembelajaran yang terus dilatih agar menjadi karakter yang melekat pada anak.
Karisma menilai sekolah ideal bukan hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menyesuaikan pembelajaran dengan nilai-nilai yang hidup di lingkungan masyarakat. Dengan demikian, ilmu yang diperoleh anak dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pemaparannya, ia juga menjelaskan bahwa guru berperan sebagai fasilitator yang mendampingi anak menemukan pengetahuannya sendiri. Pendekatan tersebut dilakukan dengan memancing rasa ingin tahu melalui praktik langsung, misalnya ketika anak mencoba memainkan alat musik tradisional dan menemukan ketidaksesuaian bunyi sehingga terdorong mencari penyebab serta solusi secara mandiri.
Menurutnya, proses belajar seperti itu mampu membangun kemampuan berpikir kritis sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri karena anak memperoleh pengalaman melalui eksplorasi, bukan sekadar menerima penjelasan secara satu arah.
Menanggapi anggapan bahwa tradisi identik dengan hal-hal mistis atau sudah tidak relevan, Karisma menegaskan pembelajaran di Sekolah Lawang lebih menitikberatkan pada aspek filosofi, budaya, dan ekologi. Sebagai contoh, pengenalan alat musik bambu juga menjadi sarana untuk mengenalkan pentingnya menjaga lingkungan dan kelestarian alam.
Ia menambahkan, tradisi dapat menjadi jembatan bagi anak untuk memahami akar budayanya sekaligus mempersiapkan diri menghadapi tantangan kehidupan modern tanpa kehilangan identitas.
Pendidikan berbasis tradisi juga dinilai menjadi bentuk investasi jangka panjang bagi keluarga. Karisma mengingatkan bahwa waktu yang diberikan orang tua kepada anak merupakan modal utama dalam membentuk karakter sehingga tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi maupun perangkat digital.
Melalui pembiasaan nilai-nilai budaya sejak usia dini, anak diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki etika, kepedulian sosial, kecintaan terhadap lingkungan, serta mampu menyaring berbagai pengaruh yang datang dari luar tanpa kehilangan jati dirinya.
Program Obrolan Budaya RRI Bandung Live tersebut menjadi pengingat bahwa pelestarian tradisi bukan sekadar menjaga warisan leluhur, melainkan juga menjadi strategi membangun sumber daya manusia yang berkarakter kuat. Di tengah perkembangan zaman, tradisi dinilai tetap memiliki peran penting dalam menciptakan generasi Indonesia yang berbudaya, adaptif, dan berdaya saing.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....