Membangun Integritas Perempuan Melalui Ajaran Leluhur Dasa Daya Waluya
- 30 Jul 2026 07:00 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Nilai-nilai luhur budaya Sunda yang diwariskan para leluhur dinilai tetap relevan diterapkan dalam kehidupan modern, terutama untuk memperkuat karakter, integritas, dan peran perempuan sebagai fondasi keluarga maupun masyarakat. Salah satu ajaran yang kembali diperkenalkan kepada publik ialah Dasa Daya Waluya, warisan budaya yang telah dikembangkan Yayasan Pasundan Istri sejak hampir satu abad lalu.
Informasi tersebut disampaikan Ambu Rita Laraswati, budayawati, bersama Gita Gartina Poeradireja, Ketua Divisi Budaya Yayasan Pasundan Istri, dalam dialog budaya yang disiarkan melalui kanal YouTube RRI Bandung Live pada 30 Juli 2026. Keduanya menegaskan bahwa ajaran Dasa Daya Waluya bukan sekadar warisan sejarah, tetapi pedoman hidup yang tetap relevan untuk menghadapi tantangan perubahan zaman.
Menurut Gita Gartina Poeradireja, Dasa Daya Waluya merupakan ajaran yang diwariskan oleh pendiri Yayasan Pasundan Istri, Ibu Ema Poeradireja, sejak tahun 1930. Hingga kini, nilai-nilai tersebut terus dijaga sebagai landasan dalam membentuk perempuan yang sehat, berkarakter, berintegritas, serta mampu menjadi mitra sejajar dalam membangun keluarga yang berkualitas.
"Dasa Daya Waluya adalah bekal untuk membentuk manusia yang utuh, bukan hanya sehat secara fisik, tetapi juga memiliki karakter dan integritas dalam menjalani kehidupan," ujar Gita.
| Baca juga: Tradisi Dinilai Perkuat Karakter Anak |
Ia menjelaskan Dasa Daya Waluya terdiri atas sepuluh nilai utama, yaitu cager (sehat), bager (berakhlak baik), bener (memiliki integritas), pinter (berilmu), singer (terampil), jujur, junun (berdaya juang), akur (mampu hidup rukun dan toleran), teuneung (ulet), serta ludeng (berani). Kesepuluh nilai tersebut saling melengkapi sebagai fondasi pembentukan pribadi yang berkarakter.
Menurutnya, penerapan nilai-nilai tersebut tidak hanya penting bagi perempuan, tetapi juga menjadi modal dalam membangun keluarga yang harmonis. Perempuan yang memiliki karakter kuat diharapkan mampu menjadi teladan sekaligus mitra dalam menciptakan generasi yang cerdas dan berakhlak.
Sementara itu, Ambu Rita Laraswati menjelaskan bahwa filosofi Dasa Daya Waluya memiliki akar kuat dalam khazanah budaya Sunda. Nilai-nilai tersebut diperkuat oleh berbagai naskah kuno, salah satunya Siksa Kandang Karesian, yang memuat ajaran mengenai etika, moral, serta pedoman kehidupan masyarakat Sunda pada masa lampau.
Ia mengatakan naskah tersebut juga mengenalkan konsep dasamala, yakni sepuluh sifat buruk yang harus dihindari, serta dasar neraka, yang menggambarkan penyalahgunaan pancaindra dan perilaku yang dapat merusak kehidupan seseorang. Pemahaman terhadap nilai-nilai tersebut diharapkan mampu menjadi benteng moral di tengah derasnya pengaruh budaya global.
"Kearifan lokal tidak boleh ditinggalkan. Justru nilai-nilai ini menjadi pegangan agar masyarakat tetap memiliki jati diri meskipun hidup di era modern," kata Ambu Rita.
Yayasan Pasundan Istri, lanjutnya, kini tengah menyusun berbagai langkah agar ajaran tersebut lebih mudah dipahami masyarakat. Salah satunya melalui penyusunan buku panduan, pengembangan program seni budaya, hingga kegiatan pemberdayaan ekonomi yang dikemas sesuai perkembangan zaman tanpa menghilangkan nilai-nilai aslinya.
Gita menambahkan pendekatan tersebut sengaja dirancang agar generasi muda, khususnya Generasi Z, dapat mengenal budaya leluhur melalui cara yang lebih adaptif. Menurutnya, pelestarian budaya harus mampu mengikuti perkembangan teknologi dan pola komunikasi generasi saat ini agar tetap menarik untuk dipelajari.
Dalam kesempatan itu, kedua narasumber juga menegaskan pentingnya peran perempuan sebagai indung tungtung rahayu, yakni sosok ibu yang menjadi pendidik pertama bagi anak-anaknya. Seorang ibu yang memiliki integritas dan karakter kuat diyakini akan melahirkan generasi yang berakhlak, cerdas, dan mampu menjaga nilai-nilai budaya bangsa.
Mereka menilai pembangunan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kemajuan ekonomi maupun teknologi, tetapi juga kualitas karakter masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan budi pekerti yang berakar pada budaya lokal perlu terus diperkuat melalui keluarga, sekolah, maupun lingkungan sosial.
Menutup dialog, Ambu Rita Laraswati dan Gita Gartina Poeradireja mengajak pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas budaya, serta masyarakat untuk bersinergi dalam mengenalkan kembali Dasa Daya Waluya kepada generasi muda. Melalui penguatan nilai-nilai budaya tersebut, diharapkan masyarakat Indonesia tetap memiliki identitas yang kokoh, mampu beradaptasi dengan perkembangan global, serta tidak kehilangan akar budayanya di tengah perubahan zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....