Merekam Kenangan atau Justru Melewatkan Momen Kunci?
- 29 Jul 2026 19:21 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Pernahkah kita membuka galeri ponsel hanya untuk mencari satu foto, tetapi justru menghabiskan waktu berjam-jam melihat kembali potongan-potongan kehidupan yang pernah kita jalani? Foto konser yang sudah hampir terlupakan, tangkapan layar percakapan dengan seseorang yang kini hanya menjadi kenangan, atau gambar langit sore yang bahkan kita sendiri sudah lupa alasan mengapa dulu memotretnya. Tanpa sadar, galeri ponsel telah berubah menjadi ruang penyimpanan kehidupan. Di sanalah banyak momen penting tersimpan dengan rapi, mulai dari perayaan ulang tahun, perjalanan, langit sore, makanan, dan wajah orang-orang terdekat. Bahkan, seringkali kita lebih mudah menemukan kenangan melalui layar ponsel daripada melalui ingatan kita sendiri.
| Baca juga: Makna “Meuleum Palita” dalam Budaya Sunda |
Fenomena ini mungkin terdengar biasa karena teknologi memang diciptakan untuk memudahkan manusia. Namun, ada pertanyaan menarik yang perlu diajukan: apakah kita masih benar-benar mengingat suatu pengalaman, atau kita hanya tahu bahwa pengalaman itu tersimpan di galeri? Dalam ilmu psikologi, dikenal kecenderungan manusia untuk mengurangi beban kerja pikirannya dengan memanfaatkan alat di luar dirinya. Para peneliti menyebut kecenderungan ini sebagai cognitive offloading, yakni memindahkan sebagian proses mengingat kepada media eksternal. Galeri ponsel adalah salah satu bentuk nyata dari kecenderungan tersebut, di mana kita tidak lagi merasa perlu mengingat detail sebuah peristiwa karena yakin semua sudah didokumentasikan dengan aman.
Contoh nyata dari fenomena ini dapat kita lihat ketika seseorang menghadiri konser. Tidak sedikit penonton yang menyaksikan penampilan musisi favoritnya melalui layar ponsel yang sedang merekam. Mereka hadir secara fisik, tetapi perhatiannya terbagi antara menikmati pertunjukan dan memastikan kamera tetap stabil demi mendapatkan hasil dokumentasi terbaik. Seolah-olah nilai sebuah pengalaman baru terasa utuh jika berhasil disimpan dalam foto atau video. Ironisnya, semakin banyak yang kita dokumentasikan, belum tentu semakin banyak yang benar-benar kita ingat. Dokumentasi perlahan menggantikan pengalaman itu sendiri, hingga kita merasa sudah ‘memiliki’ suatu momen hanya karena berhasil merekamnya.
Persoalan ini tidak lagi sekadar ranah psikologis, melainkan juga filosofis. Filsuf Prancis, Henri Bergson, pernah membedakan ingatan sebagai sesuatu yang hidup dengan rekaman masa lalu yang bersifat mekanis. Ingatan bukan sekadar kumpulan data, melainkan pengalaman yang terus berinteraksi dengan diri kita pada masa kini. Sejalan dengan itu, filsuf Jean Baudrillard mengenai konsep simulacra menjelaskan bagaimana representasi perlahan menggantikan realitas. Saat ini, banyak orang datang ke konser bukan lagi murni untuk menikmati pertunjukan secara indrawi, melainkan untuk merekam, mengunggah story, dan membuat konten media sosial. Pada akhirnya, yang hidup lebih lama bukan pengalamannya, melainkan representasi digitalnya.
Media sosial turut memperkuat kebiasaan ini dengan membentuk pola pikir bahwa setiap momen berpotensi menjadi konten. Akibatnya, kita mulai menjalani hidup dengan kesadaran bahwa hal utama bukan hanya menikmati momen, tetapi juga memastikan pengalaman tersebut dapat ditampilkan kepada orang lain. Kamera tidak lagi sekadar menjadi alat untuk mengabadikan pengalaman, tetapi menjadi perantara yang membatasi kita dengan realitas. Di tengah kehidupan yang bergerak begitu cepat, foto memberi ilusi bahwa waktu bisa dihentikan. Ada rasa aman ketika mengetahui bahwa kenangan itu tersimpan, meskipun pada kenyataannya ribuan foto dan video tersebut jarang sekali kita buka kembali.
Tentu saja, memotret bukanlah sebuah kesalahan karena dokumentasi tetap memiliki nilai emosionalnya sendiri. Namun, kita perlu sesekali bertanya kepada diri sendiri sebelum mengangkat kamera: apakah kita sedang menyimpan kenangan, atau justru sedang melewatkan pengalaman yang ingin kita kenang? Manusia tidak dibentuk oleh banyaknya foto yang ia miliki di dalam ruang penyimpanan, melainkan oleh pengalaman yang benar-benar ia hayati secara utuh. Mungkin yang sesungguhnya perlu kita jaga bukan kapasitas penyimpanan ponsel, melainkan kapasitas kita untuk merasakan. Sebab ketika ketika semua kenangan hanya kita titipkan kepada perangkat digital, galeri kita mungkin akan tetap utuh, tetapi pikiran kita justru semakin kosong.
Penulis: Bella Cecillia Putri Ahadiat, Mahasiswa Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....