Tradisi Ampih Pare: Rasa Syukur Masyarakat Sunda

  • 10 Jul 2026 08:39 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung - Masyarakat agraris Sunda sejak zaman dahulu memiliki ikatan spiritual yang sangat kuat dengan alam, terutama dalam memperlakukan padi (pare). Salah satu wujud nyata dari hubungan ini tercermin dalam tradisi Ampih Pare ka Leuit, yaitu ritual mengantarkan dan menyimpan padi hasil panen ke dalam lumbung tradisional (leuit).

Tradisi ini bukan sekadar aktivitas memindahkan hasil bumi dari sawah, melainkan sebuah upacara sakral yang sarat akan nilai penghormatan terhadap Sang Pencipta dan alam semesta yang telah memberikan kesuburan tanah.

Sebelum padi dimasukkan ke dalam leuit, prosesi ritual dipimpin oleh sesepuh adat atau tokoh masyarakat setempat dengan membacakan doa-doa khusus. Padi yang diarak biasanya dihias sedemikian rupa dan digotong menggunakan rengkong bambu pemikul yang mengeluarkan suara khas akibat gesekan tali ijuk.

Suasana khidmat bercampur gembira menyelimuti seluruh warga kampung yang ikut mengiringi prosesi ini. Hal tersebut mencerminkan penghormatan kepada Nyi Pohaci Sanghyang Asri, yang dalam kosmologi Sunda diyakini sebagai dewi padi atau simbol kesuburan.

Secara filosofis, menyimpan padi di dalam leuit mengajarkan masyarakat Sunda tentang pentingnya kearifan hidup dan manajemen masa depan. Leuit dirancang dengan arsitektur khusus yang mampu menjaga sirkulasi udara dan kelembapan, sehingga padi di dalamnya bisa bertahan hingga puluhan tahun tanpa membusuk.

Melalui tradisi ini, para leluhur mengajarkan konsep ulah hulu lali ka saliwat (jangan melupakan masa depan), di mana sebagian hasil panen harus disimpan sebagai cadangan pangan untuk menghadapi masa paceklik atau masa sulit.

Di samping nilai spiritual dan pengelolaan pangan, tradisi Ampih Pare juga menjadi perekat sosial yang sangat kuat bagi masyarakat desa. Proses memanen, mengeringkan, mengarak, hingga memasukkan padi ke dalam lumbung dilakukan secara gotong royong tanpa mengharapkan upah materi.

Semua warga, dari orang tua hingga generasi muda, melebur dalam semangat kebersamaan yang tulus. Tradisi ini secara tidak langsung mengikis sifat individualisme dan mempertebal rasa persaudaraan di dalam kehidupan bertetangga.

Pada era modern ini, ritual Ampih Pare ka Leuit masih tetap lestari di beberapa kampung adat Sunda, seperti di Kasepuhan Ciptagelar, Baduy, dan Kampung Naga. Di tengah gempuran teknologi pertanian modern dan alih fungsi lahan, bertahannya tradisi ini menjadi bukti keteguhan masyarakat adat dalam menjaga identitas budayanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....