Ungkapan Syukur dan Ketahanan Pangan di Gelaralam

  • 20 Jul 2026 09:41 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung : Rangkaian upacara adat Seren Taun di Kasepuhan Gelaralam, Desa Sirnaresmi, Kabupaten Sukabumi, merupakan satu tradisi tahunan agraris masyarakat Sunda Wiwitan , yang menjadi momen sakral untuk menyerahkan hasil bumi kepada Yang Maha Kuasa.

Bagi masyarakat adat Kasepuhan, perayaan ini bukan sekadar pesta rakyat, melainkan simbol refleksi atas siklus kehidupan dan keselarasan hubungan antara manusia, alam, serta pencipta. Fondasi utama yang paling menonjol dalam perayaan Seren Taun kali ini adalah ketatnya tata kelola pertanian demi menjaga ketahanan pangan lokal.

Di Kasepuhan Gelaralam, padi dipandang suci sebagai nadi kehidupan, sehingga ada hukum adat yang melarang keras penjualan beras atau padi ke luar wilayah. Hasil panen yang didapat hanya boleh dikonsumsi sendiri dan disimpan di dalam leuit (lumbung padi tradisional) sebagai cadangan pangan komunal masyarakat.

Melalui sistem penyimpanan yang rapi pada ratusan leuit, Kasepuhan Gelaralam berhasil membuktikan kemandirian pangan yang luar biasa hingga mampu bertahan untuk puluhan tahun ke depan.

Uniknya, meski mereka hanya memanen padi satu kali dalam setahun, pasokan pangan di desa adat ini selalu mengalami surplus. Kearifan lokal dalam membaca tanda-tanda alam dan merawat tanah menjadi kunci utama melimpahnya hasil bumi mereka secara konsisten.

Puncak prosesi adat yang paling dinanti oleh warga maupun wisatawan adalah Ampih Pare ka Leuit Si Jimat, yaitu ritual memasukkan ikat padi pertama ke dalam lumbung utama kasepuhan. Di bawah pimpinan Abah Ugi Sugriana Rakasiwi, prosesi ini diiringi oleh tabuhan musik tradisional angklung buhun dan dogdog lojor yang menggema membelah kabut pegunungan.

Atmosfer spiritual begitu terasa saat seluruh elemen masyarakat larut dalam doa bersama di Imah Gede. Melalui penyelenggaraan di tahun 2026 ini, Kasepuhan Gelaralam kembali mengirimkan pesan kuat kepada dunia modern tentang pentingnya menjaga warisan leluhur.

Di tengah gempuran teknologi, mereka berhasil membuktikan bahwa modernitas seperti jaringan internet dan listrik turbin mandiri dapat berjalan beriringan dengan hukum adat tanpa merusak tradisi. Seren Taun bukan sekadar tontonan budaya, melainkan sebuah tuntunan nyata tentang bagaimana merawat bumi demi masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....