Makna Warna Merah dan Watak Tokoh Wayang Cepot
- 27 Jun 2026 10:19 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Dalam pertunjukan Wayang Golek, salah satu yang dinantikan kemunculannya adalah Cepot. Selain dari watak humornya yang selalu mengundang gelak tawa para penonton, Cepot juga memiliki ciri khas yaitu kulit muka dan badannya yang berwarna merah.
Warna merah tokoh Cepot tentunya bukan hanya sebagai ciri saja, tetapi mengandung makna didalamnya. Dikutip dari laman "Makna Estetika dan Naratif Simbol Warna Merah dalam Pembentukan Identitas Tokoh Si Cepot" yang ditulis oleh Lintang Nadhia Pratiwi, Yuniar Siti Rachmah, Elita Salsabila, Nuraini, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Jakarta, Indonesia.
Dalam laman tersebut menjelaskan bahwa Warna merah identik dikategorikan sebagai warna yang dilambangkan sebagai warna buruk atau jahat, padahal tidak setiap warna merah melambangkan kejahatan. Dalam cerita wayang golek Si Cepot tersebut bisa merepresentasikan atau memunculkan pemaknaan baru terhadap makna warna merah yang selalu dikatakan negatif.
Adapun hakikatnya makna warna merah secara ideologi yang terkandung dalam wayang golek Si Cepot ini merupakan suatu tindakan akan adanya perlawanan terhadap keserakahan, kejahatan dan ketidakadilan yang dilakukan oleh para penguasa. Hal tersebut yang tertanam dalam jiwa Si Cepot, karena pada setiap pementasan cerita wayang golek Si Cepot kerap kali menjadi penolong bagi para kaum lemah dan melawan kepada para penguasa yang tidak adil tersebut.
Dikutip dari laman Perpustakaan Digital Budaya Indonesia menjelaskan bahwa Cepot/Astrajingga merupakan anak angkat Sanghyang Ismaya (semar) yang tercipta dari bayangannya sendiri untuk menemani Semar ketika diperintahkan Sanghyang Tunggal untuk mengabdi kepada Trah Witaradya (Ksatria). Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Semar Badranaya dan Sutiragen (sebetulnya Cepot lahir dari saung).
Wataknya humoris, suka banyol ngabodor, tak peduli kepada siapa pun baik ksatria, raja maupun para dewa. Kendati begitu lewat humornya dia tetap memberi nasehat petuah dan kritik.
Lakonnya biasanya dikeluarkan oleh dalang di tengah kisah, dan selalu menemani para ksatria, terutama Arjuna, Ksatria Madukara yang jadi majikannya. Cepot digunakan dalang untuk menyampaikan pesan-pesan bebas bagi pemirsa dan penonton baik itu nasihat, kritik maupun petuah dan sindiran yang tentu saja disampaikan sambil guyon.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....