Tradisi Unik Perang Tomat di Cikareumbi Lembang

  • 24 Jun 2026 21:57 WIB
  •  Bandung

RRI.CO.ID, Bandung: Kampung Cikareumbi, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, kembali semarak dengan digelarnya tradisi unik perang tomat. Tradisi tahunan ini menjadi bagian utama dari rangkaian acara Hajat Lembur yang berlangsung selama tiga hari, tepatnya pada 24 hingga 26 Juni 2026.

Tradisi perang tomat diikuti ratusan warga dari berbagai usia yang berkumpul di sepanjang jalan desa, untuk saling melempar buah tomat dalam suasana yang penuh dengan kegembiraan dan kebersamaan.

Menggunakan tameng anyaman bambu sebagai pelindung wajah dan tubuh, para peserta saling melempar tomat yang sudah membusuk atau tidak layak jual. Merah cerah cairan tomat segera membasahi pakaian warga dan jalanan desa, diiringi gelak tawa dan sorak-sorai yang memecah keheningan kawasan pegunungan Lembang yang biasanya berudara sejuk.

Di balik keseruannya, festival perang tomat ini bukan sekadar ajang hiburan atau hura-hura belaka. Bagi masyarakat Cikareumbi, tradisi ini memiliki makna filosofis yang mendalam sebagai simbol pembuangan sial dan ungkapan rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah.

Tomat-tomat yang digunakan sengaja dipilih dari sisa panen yang sudah rusak agar tidak mubazir, melambangkan bahwa segala hal buruk dan energi negatif dalam diri harus dilemparkan jauh-jauh dari desa mereka.

Hajat Lembur tahun ini juga menjadi momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga . Selain perang tomat, rangkaian acara juga diisi dengan ritual adat, doa bersama, serta pertunjukan seni tradisional Sunda yang memukau.

Kegiatan ini berhasil menyatukan seluruh elemen masyarakat, mulai dari petani, tokoh adat, hingga generasi muda yang bahu-maba rukun menyukseskan acara. Daya tarik magis dari perang tomat Cikareumbi ini terbukti mampu menyedot perhatian wisatawan domestik hingga mancanegara yang penasaran ingin melihat langsung "La Tomatina" versi lokal.

Pemerintah daerah setempat pun terus mendukung kelestarian budaya ini karena dampaknya yang besar terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Festival ini menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal yang dirawat dengan baik mampu menjadi identitas budaya yang membanggakan sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat desa.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....