Seren Taun: Ritual Syukur Agraris Masyarakat Sunda
- 16 Jun 2026 11:35 WIB
- Bandung
RRI.CO.ID, Bandung - Upacara adat Seren Taun merupakan puncak ekspresi budaya spiritual masyarakat Sunda yang agraris dalam merayakan hasil panen padi. Istilah "Seren Taun" berasal dari bahasa Sunda, yaitu seren yang berarti serah terima, dan taun yang berarti tahun.
Ritual ini secara harfiah dimaknai sebagai penyerahan tahun yang lalu kepada tahun yang akan datang, sekaligus bentuk pertanggungjawaban komunal atas pemanfaatan alam. Bagi masyarakat Sunda, khususnya di wilayah seperti Cigugur (Kuningan) atau Kasepuhan Ciptagelar (Sukabumi), upacara ini menjadi ruang sakral untuk menegaskan kembali hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Filosofi mendalam dari Seren Taun berakar pada penghormatan terhadap Nyi Pohaci Sanghyang Asri, yang dalam kosmologi Sunda diyakini sebagai dewi padi atau simbol kesuburan dan ketahanan pangan.
Padi bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan titipan suci yang menghidupkan. Melalui ritual ini, masyarakat mengekspresikan rasa syukur (sukuran) atas kelimpahan rezeki yang mereka terima dari bumi, sekaligus memohon berkah agar tanah yang mereka pijak tetap subur, terhindar dari hama, dan mampu menghidupi generasi mendatang pada musim tanam berikutnya.
Secara visual, Seren Taun adalah sebuah festival kebudayaan yang megah, kolaboratif, dan sarat akan nilai estetika pertunjukan. Alur upacara biasanya dimulai dengan prosesi ngajayeng (menjemput padi) dan diakhiri dengan ritual utama berupa ngagendang atau menumbuk padi secara massal menggunakan lesung dan alu tradisional diiringi musik rengkong.
Ribuan masyarakat berkumpul menyaksikan iring-iringan warga berpakaian adat yang memikul hasil bumi. Kehadiran berbagai kesenian rakyat seperti tarawangsa, angklung buncis, dan tari-tarian mistik memperkuat atmosfer magis sekaligus meriah yang memikat siapa saja yang menyaksikannya.
Lebih dari sekadar ritual kesuburan, Seren Taun memuat dimensi sosial yang sangat kuat sebagai perekat persaudaraan (silaturahmi) warga Sunda. Padi yang ditumbuk bersama tidak dinikmati secara individual, melainkan disimpan di dalam leuit (lumbung padi komunal) untuk jaminan pangan bersama, terutama bagi warga yang membutuhkan atau saat menghadapi masa paceklik.
Solidaritas sosial ini merefleksikan pilar hidup silih asih, silih asah, silih asuh, di mana ketahanan pangan sebuah komunitas dibangun di atas fondasi gotong royong, kebersamaan, dan rasa senasib sepenanggungan.
Pada era modern saat ini, kelestarian Seren Taun menjadi bukti keteguhan masyarakat adat Sunda dalam menjaga identitas kultural dan menjaga keseimbangan ekologis. Di tengah gempuran modernisasi dan alih fungsi lahan, ritual ini menjadi alarm pengingat bagi generasi muda untuk tidak mengeksploitasi alam secara serakah.
Seren Taun menegaskan sebuah pesan abadi bahwa merawat tradisi berarti merawat bumi, sebuah kearifan lokal yang mengajarkan manusia untuk mengambil secukupnya dari alam dan mengembalikannya dalam bentuk penghormatan serta rasa syukur yang tulus.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....